THe NaTuRe

FAKTOR PSIKOSOSIAL PENYEBAB KECELAKAAN

Posted by Ivan on February 27, 2012


Kecelakaan lalu lintas merupakan salah satu masalah utama yang dihadapi bangsa ini.  Hal ini dibuktikan bahwa kecelakaan lalu lintas merupakan “pembunuh nomor tiga” dunia setelah penyakit jantung dan TBC. Data WHO menunjukkan bahwa bahwa hampir 1, 2 juta orang meninggal setiap tahun akibat kecelakaan, 50 juta menderita luka berat. Umum kecelakaan terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia. Data kepolisisan RI tahun 2009 menyebutkan terjadi sedikitnya 57.726 kasus kecelakaan di jalan raya. Artinya dalam setiap 9,1 menit terjadi satu kasus kecelakaan, dengan korban 20 ribu orang meninggal (Dephub, 2010). Pada tahun 2010 korban meninggal akibat kecelakaan lalu lintas berjumlah 10 349 orang tewas. Artinya, setiap setiap hari ada 28 korban tewas akibat kecelakaan.

Pada awal tahun 2012 masyarakat Indonesia dikagetkan dengan berbagai kecelakaan yang menelan puluhan korban jiwa. Berikut beberapa contoh kasus kecelakaan:

Kecelakaan Xenia Maut yang sempat menjadi perhatian masyarakat luas terjadi pada 22 Januari lalu. Xenia bernomor polisi B 2479 XI yang disopiri Afriyani Susanti menabrak 12 pejalan kaki di Jalan M.I. Ridwan Rais, Gambir, Jakarta Pusat. Akibatnya, 9 orang tewas dan 3 luka-luka. Faktor penyebabnya karena Afriyani masih berada dalam pengaruh narkoba.

kecelakaan maut Bus Karunia Bakti tersangkut di halaman sebuah vila setelah menabrak satu bus, tujuh mobil dan lima motor di Jalan Raya Puncak, Cisarua, Bogor, pada Jumat (10/2). Kecelakaan tersebut, menyebabkan 14 orang meninggal dunia, dan 47 luka.

bus Sumber Kencono, W 7666 UY, dari arah Surabaya menabrak sedan Honda Accord AG 1663 V di Jalan Raya Madiun-Solo, kilometer 182-183, Jembatan Dusun Glodok, Karangrejo, Magetan. Tabrakan yang terjadi sekitar pukul 03.10 menelan dua korban tewas dan 12 orang luka-luka

kecelakaan maut bus Maju Jaya yang terjun ke jurang di Jalan Raya Malangbong – Wado Tanjakan Cae, Dusun Cilangkap, Desa Sukajadi, Wado, Sumedang, pada Rabu (1/2) sekitar pukul 16.30 WIB. Insiden yang menewaskan 12 penumpang, dan korban luka-luka sebanyak 21 orang tersebut, diduga karena rem blong.. .sumber : http://www.tempo.co/

Sukarto (2010) mengatakan ada beberapa faktor penyebab kecelakaan lalui lintas di antaranya: faktor manusia (pengemudi), faktor kendaraan, faktor jalan dan faktor lingkungan. Penelitian yang dilakukan Sukarto menyebutkan bahwa faktor manusia (pengemudi) merupakan faktor utama penyebab kecelakaan lalu lintas di jalan tol. Demikian juga  menurut WHO, kecelakaan di jalan raya disebabkan oleh faktor kelalaian manusia (80-90 persen), ketidaklayakan sarana kendaraan (5-10 persen) dan kerusakan infrastruktur jalan (10-20 persen).

Hasil penelitian di lapangan telah menunjukkan bahwa kecelakaan lalu lintas lebih disebabkan oleh faktor kesalahan manusia (Human error). Kesalahan manusia dapat berupa mengantuk saat berkendaraan, melanggar lampu lalu lintas, dan persepsi risiko berkendara. Beberapa penelitian juga menunjukann bahwa faktor manusia merupakan sumber utama penyebab kecelakaan, misalnya persepsi terhadap risiko berkendara, sensasi, impulsif, agresif (Zimbardo, dkk., 1997: Alsaleh, 2006) dan kepribadian (Gulliver & Begg, 2007).

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ada kaiatan antara tingkat kecelakaan dengan pengendara berisiko. Pengendara berisiko adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan perilaku pengendara yang berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan, seperti kecepatan melebihi ambang batas, pelanggaran lalu lintas dan sikap terkait dengan keselamatan Lalu lintas (Yilmaz & Celik, 2006).. Pengendara berisiko sangat berbahaya bagi dirinya dan orang lain. Hal ini karena berpotensi menimbulkan kecelakaaan yang dapat berdampak pada risiko kematian. Data menunjukkan bahwa kecelakaan lalu lintas banyak disebabkan oleh ketidakdisplinan pengendara dalam berkendaraan. Pengendara cenderung mengabaikan keselamatan dirinya dan orang lain.

Menurut Yilmaz dan Celik, (2006) beberapa faktor yang mempengaruhi sikap terhadap pengendara berisiko, yaitu:

  1. Patuh terhadap aturan kecepatan. Orang memiliki kepatuhan terhadap aturan kecepatan cenderung tidak berisiko dalam berkendaraan.
  2. Peduli terhadap kecelakaan lalu lintas. Kepedulian terhadap kecelakaan lalu lintas akan membuat seseorang lebih berhati-hati dalam berkendaraan sehingga cenderung tidak ambil risiko dalam berkendara,
  3. Kecenderungan pengambilan risiko di lalu lintas. orang yang cenderung mengambil keputusan yang penuh risiko dalam berkendara akan memiliki risko yang tinggi dalam berkendara.
  4. Pelanggaran dasar  peraturan  lalu lintas. Orang yang cenderung mengabaikan aturan dasar berlalu lintas cenderung bersiko dalam berkendaraan. Misalkan tidak berhenti ketika lampu merah menyala.

Kalau kita lihat kasus-kasus kecelakaan lalu lintas yang terjadi dikarenakan faktor psikososial. Misalkan persepsi terhadap risiko. Orang. orang memiliki persepsi risiko rendah cenderung berkendaraan secara agresif. Orang semancam ini biasanya mempunyai tingkat kepercayaan yang tinggi sehingga berkendaraan cenderung membahayakkan dirinya dan orang lain. Misalkan, ketika kita menyalip kendaraan didepan,maka banyak hal yang harus dipertimbangkan, salah satunya adalah adanya kendaraan dari depan yang muncul saat kita menyalip. Orang yang memiliki kepercayaan diri dan persepsi risiko rendah cenderung mengabaikan hal tersebut. mereka yakin dapat melewati kendaraan tersebut,

Banyak yang harus dibenahi dalam mengurangi tingkat kecelakaan lalulintas di Indonesia, mulai dari infrastruktur jalan, kelayakan kendaraan, skill berkendaraan dan psikologis pengendara. Masalah infrastruktur merupakan tanngung jawab pemerintah. Selama ini, banyak terjadi kecelakaan lalu lintas karena kerusakan infrastruktur jalan, seperti jalan berlubang, namun yang lebih penting adalah faktor personal pengendara, yang meliputi skill (pengetahuan dan kemampuan) dalam berkendara dan faktor psikologis pengendara. Untuk masalah skill, sebenarnya telah dapat dilihat pada saat tes untuk mendapatkan SIM, namun kenyataannya punya atau tidak SIM tidak terkait dengan kecenderungan terjadinya kecelakaan lalulintas. SIM hanya sebagai syarat administrasi bagi pengendara, belum menjadi indikator kemampuan seseorang dalam berkendara. selain itu, kita belum menetapkan standar konsisten bagi kelayakan kendaraan khususnya untuk bus-bus antarkota.

Dengan maraknya kejadian kecelakaan lalulintas di jalan raya, maka seyogyanya kita untuk lebih memperhatikan kondisi kendaraan dan menjaga kondisi fisik dan psikis dalam berkendara. Dengan demikian diharapkan tingkat kecelakaan dapat menurun. Wassalaam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: