THe NaTuRe

THE ART OF LISTENING:Kritik atas Psikoanalisis Sigmund Freud

Posted by Ivan on April 11, 2011


Penulis : Erich Fromm
Penerjemah : Apri Danarto
Penerbit : Jendela
Tebal : 320 halaman
Tanggal Terbit : Cetakan I, Maret 2002

Dalam kajian ilmu psikologi terdapat beberapa mazhab yang memiliki pengaruh yang besar terhadap perjalanan ilmu psikologi kedepannya. Salah satunya adalah mazhab Psikoanalisa. Kalau kita bicara tentang psikoanalisa, kita tidak bisa terlepas dari seorang tokoh yang sangat erat kaitannya dengan Psikoanalisa, yaitu Sigmund Freud atau dikenal dengan istilah “Bapaknya Psikoanalisa”. Mazhab psikoanalisa Freud telah memberikan konstribusi yang cukup signifikan terhadap perubahan paradigma psikologi yang terjadi pada zamannya, khusunya tentang konsep memahami manusia. Selain itu mazhab Psikoanalisa memberi konstribusi atas lahirnya tokoh-tokoh psikologi seperti Jung, Adler, Erikson. Erich Fromm dan sebagainya.
Teori Psikoanalisa Freud telah melahirkan banyak “kontroversi” yang terjadi di ilmu psikologi sendiri. Banyak tokoh yang pro dan kontra terhadap teori psikoanalisa Freud. Hal ini menimbulkan sikap kritis para pendukung setia terhadap psikoanalisa Freud, dengan membuat teori-teori yang baru tetapi tetap memakai asas dasarnya psikoanalisa. atau istilahnya “Neo-Freudian”. Salah satu tokohnya adalah Erich Fromm.
Erich Fromm terkenal sebagai seorang terapis. Lebih dari 50 tahun ia mempraktikan psikoanalisis; lebih dari 40 tahun aktif di New York dan meksiko sebagai pengajar, pengamat, dan dosen di Institute yang memberi pelajaran dan pelatihan psikoanalisis. Dia dilahirkan tahun 1900 di Jerman. Pada tahun 1922 ia memperoleh gelar PhD dari Heidelberg kemudian pindah ke Amerika pada tahun 1934 dan meninggal pada tahun 1980 di Swiss. Teori-teori Fromm merupakan perpaduan unik dari pemikiran Freud dan Marx. Freud, lebih merumuskan karakter kita ditentukan oleh faktor biologis dan Marx melihat manusia dideterminasi oleh masyarakat, terutama sekali oleh sistem ekonomi. Ini ditunjukan dengan banyaknya dia melakukan penelitian tentang hubungan antara klas-klas ekonomi dan jenis-jenis kepribadian.
Buku yang berjudul “The Art Of Listening” (seni mendengar) ini, memuat kritikan, saran dan pandangan Fromm mengenai metode yang digunakan dalam psikoanalisiis Freud dalam menangani seorang pasien. Fromm memberikan teori alternatif dalam menghadapi pasien. Ia lebih cenderung mampu bersikap humanis dalam menghadapi pasiennya. Artinya, pasien tidak dianggap sebagai ”robot” melainkan sebagai manusia yang mempunyai hak-hak dalam proses analitis. Seorang analis tidak hanya dituntut untuk memiliki kemampuan dalam “seni” mendengar segala permasalahan pasien seterusnya selesai tetapi juga harus mampu memahai secara utuh kondisi pasien. Fromm selalu berusaha memperlakukan pasien secara serius karena ia selalu serius terhadap dirinya sendiri. Dia mampu menganalisis pasien karena dia menganalisis diri sendiri melalui reaksi transferen yang dibangkitkan oleh si pasien terhadap dirinya..
Buku ini bukanlah merupakan buku asli yang dibuat oleh Erich Fromm melainkan kumpulan dari kuliah-kuliah, wawancara dan seminar-seminar. Buku ini terdiri dari dua baagian. Bagian pertama berjudul “Faktor-Faktor Pendorong Perubahan Kondisi Pasien dalam Perawatan Analitis”. Pada bagian ini Fromm memberikan kritikan atsa pendapat Freud, terutama faktor penyebab timbulnya neurosis dan faktor – faktor penyembuhnya. Freud beranggapan bahwa neurosis merupakan konflik antara insting ( naluri) dan ego. Dengan ego yang tidak cukup kuat, atau naluri yang terlalu kuat; menjadikan ego tidak dapat menahan laju kekuatan-kekuatan naluriah, karena alasan itulah neurosis muncul (hlm 28). Sedangkan Fromm mencoba memberi pandangan lain. Ia mengatakan bahwa di dalam diri manusia terdapat dua hasrat, yaitu hasrat yang sangat berbahaya (malignant passion) meliputi kecenderungan destruktif yang kuat, fiksasi dan narsisme ekstrem— ini yang bisa menyebabkan penyakit-penyakit berat. Kedua, hasrat tak berbahaya (benign passion) meliputi hasrat untuk mencintai, minat terhadap alam, realitas, artistic, dan sebagainya. Kedua hasrat inilah yang menetukan arah tindakan-tindakan dan kepribadian pada diri manusia.
Fromm juga mengkritik teori Freud yang mengatakan bahwa trauma itu sering dikaitkan dengan sifat-sifat dasar seksual di dalamnya; dia akan melihat trauma muncul dari usia awal (masa kecil). Sedangkan Fromm mengatakan bahwa trauma itu merupakan suatu proses yang diperpanjang, di mana satu pengalaman mengikuti yang lain, dan pada akhirnya akan menjadi seperangkat kumpulan pengalaman bahkan lebih (hlm 43). Ia juga memberikan definisi trauma, yaitu suatu peristiwa melampui batas beban yang ditolelir sirkuit saraf manusia. Karena ketidakmampuan seseorang dalam menerima beban terlalu besar, maka akan menciptakan efek traumatis yang besar juga.
Selanjutnya, Fromm berbicara apa-apa saja yang dapat berperan dalam keberhasilan atau kegagalan proses penyembuhan selain faktor konstitusional (bawaan), ia membagi menjadi 10 faktor (hlm 57), yaitu pasien telah mencapai titik dasar dalam penderitaanya, pasien harus memiliki visi tentang kehidupannya, keseriusan si pasien, kapasitas pasien dalam membedakan antara pikiran dangkal dan realitas, situasi kehidupan pasien, partisipasi aktif dari pasien, dan kepribadian sang analis.
Pada bagian kedua yang berjudul”Aspek-Aspek Terapeutis dan Psikoanalisis”. Awalnya Fromm berusaha menjelaskan konsep dasar tentang psikoanalisis. Ia berpendapat bahwa psikoanalisis bukan skedar terapi, melainkan suatu alat untuk memahami diri sendiri. Semakin kita memahami diri sendiri, tentu semakin tepat keputusan-keputusan yang kita ambil. Jadi, kemampuan memahami diri sendiri merupakan syarat mutlak untuk memahami orang lain dan menjadi seorang analis.
Pada bagian ini, Fromm juga memberikan kritikan terhadap Ferud tentang sasaran metode teraupetik psikoanalisis dan konsep Freud tentang masa kanak-kanak. Freud memandang bahwa masa kanak-kanak merupakan masa yang paling menentukan seseorang dalam perkembangan selanjutnya. Sedangkan Fromm memandang bahwa masa kanak-kanak tidaklah masa yang menentukan (determine) seseorang melainkan memberikan kecenderungan (incline kepadanya. Di masa kanak-kanak terdapat unsur-unsur tertentu yang merupakan dasar bagi perkembangan selanjutnya; namun menjadi kenyataan bahwa peristiwa-peristiwa di masa berikutnya ini mampu memperluas, memperkuat, atau melemahkan unsur-unsur tersebut. Dengan kata lain, peristiwa-peristiwa di masa kanak-kanak tidak perlu menjadi penentu hidup seseorang melainkan ia akan memberi arah, dan semakin lama berjalan maka akan terbelokan sampai perubahan masih bisa terjadi.
Buku ini menjadi menarik karena keberanian Fromm dalam menyampaikan pandangannya, kritikannya terhadap psikoanalisis Freud. Ia mencoba memberikan “revisi” terhadap teori-teori Freud. Walaupun demikian, Fromm sangatlah “berjiwa besar”, artinya, ia tidak hanya mengkritik tetapi ia sangat mengakui eksistensi akan keberadaan teori Freud, bahkan ia memberi apresiasi terhadap Freud yang telah memberi sumbangsih yang cukup besar terhadap ilmu psikologi. Namun, buku tak lepas dari Kekurangan, yaitu “ketidakmampuan” Fromm dalam memberikan teknik psikoterapi yang baru secara aplikatif dan komprehensif. Buku ini hanya memberi pandangan-pandangan Fromm secara terbatas, khususnya bagaimana cara menangani pasien dan faktorr-faktor penyembuhan. Selain itu, bahasa yang digunakan juga tidak sembarangan, perlu pemahaman dan pemaknaan yang mendalam dalam memahami alur kalimat.
Terlepas dari itu semua, buku ini secara umum mampu memberikan pandangan yang berbeda dalam menghadapi dan menggunakan “teknik” psikoanalisis dalam penyembuhan seorang pasien— tentunya versi Fromm. Kalau kita ingin memahami teori-teori Fromm secara mendalam, maka buku ini tidaklah tepat untuk menjadi acuan utama. Buku ini hanya memberikan wacana keilmuan kepada kita semua bagimana Fromm memiliki pandangan yang berbeda dengan Freud. Ia tidak hanya memandang individu secara “personal” tetapi juga secara social, ekonomi dan budaya. Artinya, terbentuk kepribadian yang sehat seseorang tidak hanya ditentukan bawaan melainkan juga akibat interaksinya secara sosial, budaya dan ekonomi. Inilah yang menjadikan pandangan Fromm berbeda dengan Freud. Dan pada akhirnya, buku ini dapat menjadi suatu “pancingan” bagi kita dalam memahami teori-teori Fromm dan juga menjadi seorang “Kritisi” terhadap teori-teori Freud.

By : Vano

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: