THe NaTuRe

BERPIKIR ALA KRIMINAL

Posted by Ivan on February 12, 2011


Manusia adalah makhluk yang sempurna yang ada di muka bumi ini. Namun dibalik kesempurnaan, manusia tidak lepas dari kelemahan-kelemahan. Sesungguhnya dalam diri manusia terdapat dua potensi: kebaikan dan keburukan. Manusia diberi kebebasan dalam berpikir, bersikap dan bertindak, artinya, manusia berhak menentukan dirinya tanpa dipengaruhi lingkungannya. Namun kebebasan disini bukan berarti manusia bebas melakukan apa saja, tanpa memperhatikan kepentingan orang lain. Apalagi sampai melakukan perbuatan yang mendzhalimi orang lain., seperti tindakan kriminal.
Perilaku kriminal akhir-akhir ini begitu banyak terjadi di masyarakat. Salah satu indikatornya adalah kuantitas dan kualitas tayangan perilaku kriminal di TV. Hampir setiap hari kita disuguhin berita-berita kriminal, mulai dari kriminal kelas ringan (mencopet) sampat kriminal kelas berat (pembunuhan), mulai kriminal tidak teroganisir sampai teroganisir.. Lalu timbul pertanyaan: kenapa perilaku kriminal terjadi?bagaiman proses berpikir para pelaku kriminal?
Perilaku manusia timbul dari interaksi individu dengan lingkungannya. Kata “bang Napi” tindakan kriminal timbul karena ada dua hal, yaitu, adanya niat dan kesempatan. Perilaku kriminal dapat didefenisikan sebagai suatu perilaku yang bertentangan dengan norma sosial dan menilmbulkan dampak secara fisik, materi dan psikologis bagai korban pelaku kriminal. Secara garis besar ada dua faktor yang dapat menimbulkan tindakan kriminal yaitu, faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri meliputi kepribadian, gaya berpikir, kebutuhan, personal, frustasi dan agresi, dan proses imitasi. Sedangkan faktor eksternal meliputi karakter situasi dan social presure.

Banyak pendekatan yang mencoba menjelaskan proses perilaku kriminal, diantaranya, pendekatan belajar, sosial dan budaya, biologis dan evolusi, dan kognitif
Salah satu pendekatan yang banyak mengkaji perilaku kriminal adalah pendekatan kognitif. Pendekatan ini menekankan bagaimana individu memahami, mempersepsi dan berpikir tentang dunia sosial. Ross dan Fabiano (1985) membagi dua jenis kognisi, yaitu impersonal kognisi dan interpersonal kognisi. Impersonal kognisi adalah skill yang digunakan dalam mempersepsi dan memahami dunia fisik (persepsi visual, memory). Interpersonal kognisi adalah skill yang digunakan dalam situasi sosial untuk memahami orang lain dan untuk memecahkan masalah interpersonal (persepektif sosial, berpikir)
Seorang pelaku kriminal tentunya mempunyai cara sendiri dalam melihat dan berpikir ketika akan melakukan tindakan kriminal. Yang jelas ada tahapan-tahapan ketika seseorang memutuskan untuk bertindak kriminal. Mulai dari tahapan secara kognitif, emosi sampai perilaku. Penelitian-penelitian tentang gaya berpikir pelaku kriminal telah banyak dilakukan. Penelitian bermula dari penelitian Yochelson dan Samenow pada tahun 1976, yang meneliti 240 pria pelaku kriminal. Hasil penelitiannya menyimpulkan ada beberapa pola berpikir kriminal, yaitu, lemah dalam kemampuan pemecahan masalah, kurang empati, persepsi tentang dirinya sebagai korban, dan tidak bertanggung jawab.

Penelitian oleh Antonowicz, (2005) menujukkan pola kognisi sosial pelaku kriminal, yaitu:
– Kurangnya kontrol diri dan tingginya tingkat kompulsif
– Cenderung menggunakan lokus of kontrol eksternal, yaitu cenderung memahami terjadinya perilaku karena ketidakmampuan mengontrol atau disebabkan oleh faktor luar/lingkungan.
– Cenderung berpikir konkrit daripada berpikir abstrak
– Kurang dalam mengambil perspektif sosial dan empati
– Kurang dalam pemecahan masalah
– Kurang dalam berpikir moral (moral reasoning)
Crick dan Dodge (1994) menggunakan model of social information-processing dalam memahami perilaku kriminal. Ada 6 tahap dalam model of social information-processing, yaitu:
1. Encoding isyarat sosial. Pada fase ini individu memasukkan segala informasi yang berkaitan situasi sosial.
2. Interpretasi dan representasi mental situasi sosial. Individu menggunakan skema kognitif dalam memahami situasi sosial. individu cenderung melakukan misinterpretasi dalam memahami situasi sosial. misalkan, bias atribusi.
3. Klarifikasi tujuan dan outcome situasi. memahami dan menegaskan tujuan yang ingin dicapai. Umumnya situasi menggambarkan representasi mental. Misalkan situasi konflik, menggambar adanya sikap dominan, ingin mengalahkan orang lain.
4. Konstruksi respon potensial terhadap situasi. mengkonstruksi respon sesuai dengan pengalaman dan memory yang dimiliki agar tujuan tercapai. Misalkan perilaku agresif, maka respon yang dibangun: agresif secara verbal dan fisik)
5. Evaluasi dan pemilihan respon terhadap situasi. Individu melakukan evaluasi terhadap respon: apakah respon tersebut dapat mencapai tujuan yang dinginkan.
6. Performance dan pemilihan respon. Pada ini terjadi perilaku (perilaku agresif) berdasakan analisis atau evaluasi pada tahap sebelumnya.
Salah satu aspek yang banyak diteliti dalam memahami proses kognitif pelaku kriminal adalah moral reasoning. Moral reasoning adalah bagaimana individu berpikir dan menjustifikasi atas perilakunya. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Piaget (1932) yang meneliti anaknya tentang bagaimana memahami dunia sosial. Selanjut Kohlberg (1964) berpendapat ada 6 tahap dalam tahapan berpikir moral, yaitu:
1. Punishment and obedience. (Orentasi kepatuhan dan hukuman)
2. Individualisme (orentasi instrumental/kesenangan))
3. Interpersonal conformity (aksi moral berdasarkan keluarga/kelompok yang memiliki pengarauh penting)
4. Social system and conscience (orentasi norma sosial)
5. Utility and inddividual rights (orentasi kontrak sosial)
6. Universal ethical principles (orentasi prinsip etika universal)
Sementara Gibs (2003) merevisi tahapan berpikir moral kohlberg, menjadi 4 tahap dalam sociomoral, yaitu:
Immature moral reasoning
Tahap 1: Unilateral and physicalistic
Referensi Aksi moral berdasarkan figur yang memiliki pengaruh penting (orang tua) dan konsekuensi fisik atas perilakunya.
Tahap 2. Exchanging and instrumental
Aksi moral berdasarkan interaksi sosial, yang berdasarkan untung/rugi.

Mature moral reasoning
Tahap 3 Mutual and prosocial
Aksi moral berdasarkan hubungan interpersonal dan norma sosial
Tahap 4 Systemic and standard
Aksi moral berdasarkan nilai, sistem sosial dan karakter yang berlaku

Konsep moral dari Gibb diaplikasi dalam proses perilaku kriminal
Tahap 1. Pelaku kriminal berpikir bahwa hukuman dapat dihindari
Tahap 2 pelaku kriminal berpikir bahwa perilakunya memberikan keuntungan daripada kerugian
Tahap 3. Jika Pelaku kriminal dilakukan dapat menjaga hubungan personal
Tahap 4. Jika perilaku kriminal dilakukan dapat memelihara masyarakat atau sanksi dari institusi sosial.

Kalau kita perhatikan berdasarkan konsep moral Gibbs, kebanyakan pelaku kriminal berada pada tahap 1 dan 2. Perlaku kriminal sering menjustifikasi perilakunya berdasarkan persepsi bahwa hukuman atas perilakunya dapat dihindari dan keuntungan yang diperoleh lebih besar daripada kerugian. Jarang kita menemukan di dunia nyata kalau perilaku krimanal dijustifikasi untuk memlihara keadilan di masyarakat. Lain di dunia fiksi (film), Untuk contoh pada tahap 4 adalah tokoh Robin Hood, yang melakukan tindakan kriminal (pencurian) untuk kepentingan sosial.

Para pelaku kriminal umumnya mengalami distorsi kognitif. Ada kesalahan dalam memahami situasi. Seringkali situasi atau individu dianggap sebagai musuh, sehingga memunculkan sikap permusuhan yang dapat berujung pada perilku kriminal. Selain itu, pelaku kriminal mengalami bias egosentris, yaitu kecenderungan menjustifikasi perilaku berdasarkan kepentingan pribadi. Misalkan orang sering kali melakukan tindakan kriminal karena masalah/kepentingan pribadi.Referensi
Palmer, e.J (2007). Criminal Thingking in David Carson, Rebecca Milne, Francis Pakes,
Karen Shalev and Andrea Shawyer. Applying Psychology to Criminal Justice (pg 147-167). Chichester: John Wiley & Sons Ltd:
.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: