THe NaTuRe

Model Perubahan Perilaku Berjudi

Posted by Ivan on December 4, 2010


By

Ivan M.Agung

Salah satu permasalahan sosial yang melanda negeri ini adalah perjudian. Selama ini perjudian dikenal sebagai suatu penyakit masyarakat (pekat) yang sangat sulit diberantas. Hal ini dikarenakan perilaku berjudi di kalangan masyarakat dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Selain itu ada beberapa suku yang menganggap perjudian merupakan suatu kebiasaan yang telah ada sejak lama sehingga sulit ditinggalkan. Hal itu semakin membuat sulit dalam memberantas perjudian di tengah masyarakat.

Menurut Kartono (2003) perilaku berjudi adalah pertaruhan dengan sengaja, yaitu mempertaruhkan sesuatu yang memiliki nilai, dengan menyadari adanya suatu resiko dan harapan-harapan tertentu pada permaianan, pertandingan atau apa pun yang kejadiannya belum pasti hasilnya. Sedangkan menurut Robert Carson dan James Butcher (1992) dalam buku Abnormal Psychology and Modern Life, mendefinisikan perjudian sebagai memasang taruhan atas suatu permainan atau kejadian tertentu dengan harapan memperoleh suatu hasil atau keuntungan yang besar. Apa yang dipertaruhkan dapat saja berupa uang, barang berharga, makanan, dan lain-lain yang dianggap memiliki nilai tinggi dalam suatu komunitas. Menurut undang-undang hukum pidana pasal 303 ayat 3, perjudian dinyatakan sebagi berikut:

“main judi berarti tiap-tiap permaianan yang kemungkinannya akan menang pada umumnya tergantung pada untung-untungan saja;juga kalau kemungkinan bertambah, karena pemain lebih pandai dan cakep. Main judi mengandung juga segala pertaruhan tentang keputusan perlombaan atau permainan yang tidak diadakan oleh mereka yang turut berlomba atau main itu, dengan jugan pertaruhan yang lain”,

Menururt Papu (2002) ada tiga unsur yang dapat menjadi faktor yang membedakan perilaku berjudi dengan perilaku lain yang juga mengandung risiko:

1.    Perjudian adalah suatu kegiatan sosial yang melibatkan sejumlah uang (atau sesuatu yang berharga) dimana pemenang memperoleh uang dari yang kalah.

2.    Risiko yang diambil bergantung pada kejadian-kejadian dimasa mendatang, dengan hasil yang tidak diketahui, dan banyak ditentukan oleh hal-hal yang bersifat kebetulan/keberuntungan.

3.    Risiko yang diambil bukanlah suatu yang harus dilakukan; kekalahan/kehilangan dapat dihindari dengan tidak ambil bagian dalam permainan judi.

 

Mengapa orang berjudi?ada banyak faktor yang mempengaruhi kenapa individu terlibat dalam perjudia. Secara ada dua, yaitu interjal dan eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri individu, seperti kepribadian, sensasi, persepsi terhadap probabilitas kemenangan, emosi (impulsif/tidak stabil) dan kebutuhan. Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri individu, seperti lingkungan, dan budaya dan sosial.

 

Perilaku berjudi memiliki efek negatif terhadap pelaku serta lingkungan social. Menurut Kartono, (2003), perilaku berjudi memilki ekses sebagai berikut:

Mendorong orang untuk melakukan penggelapan uang dan tindakan korupsi

  1. Energi dan pikiran berkurang, karena selalu diorong nafsu judi dan kerakusan ingin menang dalam waktu pendek.
  2. Badan jadi lesu dan sakit-sakitan karena krang tidur serta selalu dalam keadaan tegang.
  3. Pikiran jadi kacau, karena selalu digoda oleh harapan untuk menang.
  4. Pekerjaan jadi terlantar, karena keasyikan main judi
  5. Anak istri dan rumah tangga tidak diperhatikan lagi.
  6. Mudah tersinggung, sensitive, mudah marah bahkan cenderung agresif.
  7. Mentalnya terganggu dan kepribadiannya labil
  8. Mendorong orang untuk melakukan criminal untuk mendapatkan modal atau membayar hutang kalau kalah dalam main judi.
  9. Merusak ekonomi rakyat, karena orang bersikap untung-untungan dan dan kurang serius dalam bekerja
  10. Menjauhkan diri dari agama sehingga mendorong orang untuk melakukan tindakan asusila.

 

 

Selama ini pemerintah berusaha memberantas perilaku berjudi, karena Perliku berjudi memilki dampak yang luar biasa bagi yang melakukannya, terutama bagi rakyat yang memiliki kehidupan menengah ke bawah. Perilaku berjudi tidak hanya berdampak secara keuangan tetapi juga berdampak secara social. Menurut Coman, dkk (2005) perilaku judi memiliki efek tidak hanya pada level individu, tetapi pada keluarga dan komunitas.  Ketika seorang telah kecanduan judi atau menjadi phatalogical gembler, akan memiliki konsekuensi negatif. Seseorang telah dikatagorikan masuk dalam  phatalogical gembler akan mengalami permasalahan dengan keuangan. Selain itu secara social akan akan memiliki masalah, seperti mudah melakukan tindak kriminal dan mudah treperosok pada penggunan obat terlarang (Gupta, dkk., 2004).

Pemerintah dalam menangani perilaku berjudi di masyarakat cenderung bertindak sendiri, artinya peran serta masyarakat dan pihak-pihak lain kurang diberdayakan. Padahal untuk menerapkan suatu program/model yang bersifat holistik untuk perubahan perilaku di masyarakat. Ada dua program atau intervensi yang bisa digunakan dalam perubahan perilaku berjudi. Pertama, perlu menggunakan pendekatan yang berbasis komunitas atau community- based prosess. Peran komunitas dalam perubahan perilaku berjudi di masyarakat sangat penting.  Tanpa partisipasi masyarakat akan sulit terjadi perubahan perilaku. Salah satu model dalam perubahan adalah pengembangan komunitas (community developoment), yaitu  memaksimal peran, potensi, dan pengetahuan masyarakat dalam mengembangkan komunitasnya. Dalam pengembangan komunitas partisipasi masyarakat dituntut lebih berperan aktif dan menumbuhkan senses community pada masyarakatnya, sehingga akan timbul komitment dan kontrol masyarakat terhadap komunitasnya (Dalton, dkk., 2001). Selain itu, pengembangan komunitas akan melahirkan masyarakat efektif, yang artinya ada keinginan untuk partisipasi dan kesiapan dalam menghadapi isu-isu yang berkembang di lokal, dengan mengggunakan pengetahuan, skill dan keprcayaan diri untuk ikut ambil dalam penetapan keputusan (Andrews dkk., 2006)

 

Kedua. selain pendekatan berbasis komunitas, sesuatu yang selama ini jarang diperhatikan adalah melakukan suatu konseling individu atau kelompok pada orang yang bermain judi. Selama ini pemerintah hanya menggunkan hukum positif dalam menangani para perilaku judi. Padahal itu tidak menyentuh dari segi kognitif, emosi atau perilaku. Untuk itu perlu diadakan konseling terhadap pelaku judi. Salah satu teknik yang digunakan adalah motivation interviewing, yaitu suatu konseling yang berpusat pada klien, dengn membantu klien cara mengeksplorasi dan menemukan motivasi intrinsik, yang akan digunakan untuk perubahan perilaku (Rollnick & Miller, 1995)..

Motivation interviewing merupakan salah satu teknik yang digunakan dalam perubahan perilaku. Awalnya teknik ini dikembangkan oleh Miller (1983), ia menerapkan konsep ini pada peminum (drinker). Kemudian pada tahun 1991, Miller dan Rollinck mengembangkan konsep ini secara detail dan utuh  dalam seting klinis. Menurut Rollnick dan Miller (1995) “Motivational interviewing is a directive, client-centered counseling style for eliciting behavior change by helping clients to explore and resolve ambivalence”. Motivation interviewing mencoba menumbuhkan motivasi intrinsik klient untuk berubah dengan cara mengeksplorasi dan memecahkan ambivalensi. Miller dan Rollnick mengatakan ada tiga teknik yang digunakan dalam motivation interviewing, yaitu menggunakan konseling cilent-centered yang berdasarkan konseling Rogerian, mendengar secara reflektif, mengajukan pertanyaan langsung dan strategi untuk menimbulkan motivasi internal dari klien, menerapkan dalam wujud statemen yang self-motivating dari klien itu. Keterampilan ini digunakan untuk mendorong klien untuk menyelidiki dua sifat bertentangan (ambivalensi) tentang perubahan  dan bagaimana keputusan mereka sendiri tentang mengapa dan bagaimana cara berproses; dan strategi untuk memastikan bahwa resistensi klien diperkecil. Rapport yang baik dicapai dengan  menghindarkan argumentasi dengan  keterampilan mendengarkan reflektif, dan strategi seperti pergeseran fokus dan reframing, yang mana  mengijinkan konselor untuk mengikuti/ klien dan melakukan suatu percakapan bersifat membangun tentang perubahan.

Menurut Miller dan Rollnick (dalam Emmons, dan Rollnick, 2001) ada empat konsep general motivation interviewing, yaitu ekspresi empati yang dilakukan dari refleksi mendengar dari jawaban klien ;(2) mengembangkan diskrepansi diantara tujuan kilen dengan masalah perilku saat ini, yang dilakukan dari proses reflektif pendengaran dan feedback yang objektif ;(3) rolling dengan resisitensi ;dan (4) mendukung self–efficacy dan optimisme untuk perubahan.

Menurut Miller dan Rollnick (dalam Bundy, 2004) ada delapan tahap dalam melakukan motivation interviewing.

1.  Membangun rapport (establishing rapport).  Rapport sangat berguna dalam melakukan konseling atau terapi. Fungsi rapport untuk membangun kepercayaan pada diri klien kepada konselor. Dengan kepercayaan perubahan perilaku akan lebih mudah, karena kepercayaan merupakan hal yang esensi dalam perubahan perilaku.

2. Setting agenda. Pembuatan agenda dilakukan oleh klien dengan dibantu oleh konselor melalui feedback, tujuannya dalah untuk mengetahui hal apa yang harus diperioritaskan, permasalahan yang disadari atau tidak, dan bagimana mencapai tujuan. Agenda dapat direvisi secara reguler untuk melihat perubahan perioritas dan untuk penguatan progres.

3.  Penilaian kesiapan untuk berubah (assessing readiness to change).  Tujuan untuk melihat sejauh mana kesiapan klien untuk berubah. Caranya dengan mengajukan pertanyaan mengenai keinginan, kemauan, motivasi dan kemampuan,  sehingga diperoleh informasi yang jujur mengenai mengenai kesiapannya. Kesiapan, kemauan dan kemampuan klien merupakan hal penting untuk melakukan perubahan. Terkadang ada yang iingin berubah, tapi tidak siap, bisa berubah tapi tidak siap dan sebagainya. Untuk itu perlu sharing mengenai alasan atas pertanyaan, sehingga memperoleh pemahaman.

4.  Pertajam fokus (sharpening focus). Klien harus mampu memahami apa yang harus dirubah dari dirinya. Apakah perubahan itu realistik atau tidak realistik?untuk itu perlu melakukan breakdown terhadap komponen yang menjadi perilaku yang ingin dirubah. Dan menemukan pola perilaku tersebut. Tujuanya untuk agar lebih fokus dan spesifik dan membuat tugas kelihatan lebih mudah dicapai.

5.  Identifikasi ambivalensi (identifying ambivalence). Ambivalesi merupakan suatu hal normal jika klien tidak setuju, atau terjadi  penolakan atas pernyataan refleksi yang telah direncanakan. Tugas terapi adalah untuk memperoleh informasi hal apa yang menjadi penyebab ambivalensi dalam diri klien. Dan menjelaskan konsep ambivalensi tersebut.

6.  Memperoleh peryataan self- motivattion dari diri klien. Ambil setiap kesempatan untuk menggali ungkapan positif dari klien. Salah satu cara dengan mengajukan pertanyaan tentang apa yang akan dilakukan untuk meraih hasil terbaik. Selain itu bisa menggunakan pharaprase dari klien untuk membangkitkan motivasinya.

7.  Menangani resistensi (handling resistance). Refleksi merupakan salah satu kekuatan untuk menangani resisitensi klien. Observasi dan proses mendengar merupakan hal penting dalam melakukan refleksi. Konselor  harus memperhatikan kata, arti dan konteks emosi yang berasal dari ucapan klien.

8.  Fokus bergeser(shifting the focus). Terapsi atau konselor harus bisa membuat fokus klien bergeser atau berubah ketika dalam melakukan konseling. Hal ini berguna agar klien bisa fokus kepada agenda yang telah ditetapkan.

 

Kedua program tersebut akan sukses bila semua pihak (pemerintah, masyarakat dan aparat penegak hukum) bekerja sama mewujudkan suatu perubahan ke arah yang lebih baik, yaitu memberantas perjudian. Semangat perubahan harus tetap dijaga dan dipelihara sehingga akan memudahkan terjadinya perubahan perilaku di masyarakat. Oleh karena itu semua pihak harus tahu perannya masing-masing dan saling mengingatkan bila terjadi kesalahan-kesalahan dalam proses menuju perubahan. Dengan demikian diharapkan perubahan perilaku berjudi dapat terjadi dan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera.

Referensi

Andrews,R,  Cowell, R, Downe, J and Martin, S. 2006. Promoting EffectiveCitizenship and Community Empowerment A guide for local authorities on enhancing capacity for public participation. Office of the Deputy Prime Minister: London

Bundy, C. 2004.Changing behaviour: using motivational interviewing techniques. Royal Society of Medicine (Great Britain). Journal of the Royal Society of Me.2004; 97, ProQuest Medical Library pg. 43

Dalton, J.H.,Elias, M.J. & Wandersman, A. 2001. Community Psychology Lingking Individual and Community, Unietd State: Wardsworth

Emmons,  K. M, & Rollnick, S. 2001. Motivational Interviewing in Health Care Settings Opportunities and Limitations. Am J Prev Med 2001; 20(1): 68-74)  dalam http://www.wales.nhs.uk/sites/documents/368/Motvation.pdf

Gupta, R, Derevensky, J & Marget, N. 2004.  Coping Strategies Employed by Adolescent swith Gambling Problems. Child and Adolescent Mental Health Volume 9, No. 3, pp. 115–120

Kartono, K. 2003. Patalogi Sosial. Jilid 1. Jakarta:Raja Grafindo Prasada.

Papu, J. 2002. perilaku berjudi. Dalam www. e-psikologi.com.

Rollnick S., & Miller, W.R. 1995.  What is motivational interviewing?  Behavioural and Cognitive Psychotherapy, 23, 325-334. http://www.motivationalinterview.org/

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: