THe NaTuRe

Memahami Bencana: antara ujian, peringatan atau hukuman?

Posted by Ivan on November 13, 2010


Pada bulan Oktober dan November 2010, Bangsa Indonesia mengalami banyak bencana ,mulai dari banjir bandang Wasior, gempa bumi dan tsunami di Mentawai hingga letusan gunung merapi di Yogyakarta. Berbagai bencana ini mengingatkan kita semua bahwa bangsa ini sangat rentan atau berisiko terhadap bencana-bencana alam, seperti gempa, banjir, erupsi gunung berapi dan tsunami .Ya…Indonesia dapat dijuluki “negeri 1001 bencana”, negeri yang tak kunjung hentinya tertimpa musibah. Memang semua bencana itu datang dari Allah, seperti kata Ebet:..anugerah dan bencana adalah kehendaknya….., tapi sebagai manusia harus mampu mengambil hikmah dari setiap bencana yang terjadi.

Bencana merupakan segala sesuatu yang meyebabkan kerusakan, kerugian dan ketidakseimbangan dalam kehidupan manusia. Ada dua jenis bencana, yaitu bencana alam (natural disaster) dan bencana buatan manusia (humanmade disaster). Natural disaster merupakan bencana yang ditimbulkan oleh kekuatan alam dan biasanya tidak dapat dikontrol atau diprediksi. Dampaknya sangat luas bagi kehidupan manusia tergantung kekuatan yang bencana. Contoh gempa bumi dan tsunami. Sampai saat ini belum ada teknologi yang dapat memprediksi kapan terjadinya gempa bumi. Dampaknya yang diakibatkan gempa bumi bervariasi tergantung kekuatan gempanya. Ketika terjadi gempa bumi dan tsunami Aceh yang mengakibatkan kehilangan nyawa yang sangat besar (200 ribu orang mati).

Sedangkan humanmade disaster adalah bencana akibat ulah manusia. Karakteristiknya: biasanya dapat diprediksi dan dikontrol, efeknya tidak terlalu luas, sifatnya kronik dan tiba-tiba. Misal banjir karena banyak hutan yang ditebang dan membuang sampah tidak pada tempatnya. Humanmade disasater memiliki dampak yang serius bagi kehidupan manusia, seperti dampak psikologis (stress, depresi sampai dengan kematian. Lau timbul pertanyaan: bagaima seharusnya kita memahami bencana yang menimpa negeri ini?apakah ini suatu ujian, peringatan atau hukuman?

Ada dua cara dalam memahami bencana (natural disaster). Pertama, bencana disebabkan oleh kondisi Alam. Pemahaman ini lebih melihat bencana sebagai suatu yang ilmiah, sebab-akibat (proses alam). Cara pandang ini cenderung tidak mengkaitkan perilaku manusia dengan bencana. kedua, melihat bencana tidak hanya sebatas proses alam, sebab-akibat tetapi dikaitkan dengan agama. Bahwa bencana merupakan kehendak Allah yang bertujuan untuk mengingat atau menghukum manusia agar kembali ke jalan yang benar. Impliksinya, di masyarakat kita cenderung menghindari cara kedua, mungkin ini menghidari stigma negatif atas perilaku orang yang daerahnya terkena bencana. Selama ini berkembang stigma bahwa daerah yang terkena bencana dikaitan dengan perilaku masyarakat banyak yang melakukan perbuatan dosa sehingga Allah menghukum dareah tersebut dengan bencana.

Sebagaimana manusia yang beragama (islam) tentunya kita mempunyai pandangan yang berdasarkan Al-Quran dan hadist. Dalam Al-qur’an banyak sekali ayat-ayat yang membahas masalah yang terkait dengan bencana. Kalau diartikan bencana merupakan sesuatu hal yang tidak menyenangkan bagi manusia. Bahasa di Al-qurannya adalah mushibah, yaitu sesuatu yang tidak menyenangkan. Dalam surat Al baqorah ayat 155-156 dijelaskan bahwa ketika manusia dicoba dengan ketakutan, kelaparan, kekuarangan harta, jiwa dan buah-buahan. Maka kita dianjurkan untuk mengucapkan inna lilaahi wa inna ilaihi raaji’uun.

Lalu bagiamana mana kita menempatkan bencana apakah sebagai ujian, peringatan atau hukuman?Tujuan penciptaan manusia adalah menyembah kepada Allah. Oleh karena itu, Allah mengutus Rasul dan nabi untuk mengajak manusia kembali menyembah Allah. Tepi kenyataannya banyak umat yang mungkar sehingga mendapat hukuman atau azab dari Allah. Di Al-Quran banyak contoh kisah-kisah umat, seperti umat nabi nuh, Yunus dan Luth yang diberi azab oleh Allah karena melakukan perbuatan dosa, alias menolak ajaran nabi dan rasul Allah. Kalau diperhatikan tujuan Allah untuk memberi hukuman atau azab adalah agar mereka kembali ke jalan Allah. Tetapi kalau tidak berhasil, maka Allah akan melenyapkan suatu kaum dengan bencana, seperti kaum nabi Luth yang telah melampuai batas (menyukai sesama jenis, alias gay).

Jadi bencana dapat dimaknai sebagai ujian, peringatan atau hukuman. Pertama, Sebagai Ujian. Hal ini kalau diperuntukan bagi kaum mukmin. Artinya bila kaum mukmin terimpa musibah berarti itu merupakan ujian baginya. Seseorang mukmin tentunya perlu diuji sejauh mana kualitas keimanannya. Semakin besar ujiannya, maka semakin besar tingkat keimanannya. Allah tentunya tidak saja memasukkan seseorang ke surga tanpa uian. Ujian berguna untuk melihat bagimana kekuatan keimanan seseorang dan dapat meninggikan derajat seorang mukmin bagi yang mampu melewati benacana deban sabar dan taqwa.

Kedua, sebagai peringatan. Bencana atau musibah merupakan salah satu cara Allah menegur manusia untuk kembali beribadah kepada Allah. Kita ketahui bahwa Sifat dasar manusia adalah suka lupa, dan lalai terutama atas nikmat-nikamat yang Allah berikan kepada kita. Ketiga sebagai hukuman. Bila manusia sudah senantiasa melakukan kema’siatan kepada Allah dan tidak mempan diberi peringatan-peringatan, maka Allah akan menimpakan bencana sebagai hukuman akibat kesalahan manusia. “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi” (QS Annisa: 79). Ayat tersebut sngat jelas bahwa perilaku manusia menjadi salah satu dasar kenapa Allah memberikan musibah di negeri ini.

Sekarang mari kita renungkan bagaimana perilaku masyarakat Indoensia: apakah sudah sesuai dengan syariat-syariat agama islam? Tampaknya masih belum, banyak perilaku maksiat yang masih terang-terangan terjadi di negeri ini. Perubahan-perubahan yang dilakukan para ulamadan pemerintah belum maksimal. Kita diibaratkan sebagai negeri yang semua Ok! “maksiat terus jalan dan ibadah jalan terus”. “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS Al-A’raaf:96).

Bencana sebagai ujian, peringatan atau hukuman tergantung bagaimana kondisi keimanan kita. Kalau kita seorang muslim yang taat, musibah merupakan ujian bagi kita untuk “naik kelas” .dan jika kita muslim yang kadang-kadang taat dan kadang-kadang melakukan kesalahan, maka musibah sebagai peringatan bagi kita untuk selalu ingat kepada Allah (Islam). Sedangkan kalau kita terus bergelimang maksiat kepada Allah, bencana sebagai hukuman agar kembali ke jalan Allah . Lalu dimanakah posisi kita?wallahu a’lam.

lalu bagaimana cara kita memahami dan menghadapi bencana?Sikap yang harus dikembang dalam menghadapi bencana. Pertama. mempertebal keyakinan bahwa setiap bencana merupakan kehendak Allah. “Tidak ada satu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS At taghaabun :11). Kedua, mengembangkan sikap ikhlas dan sabar. Sikap ikhlas dan sabar merupakan kerelaan kita menerima segala takdir dengan lapang dada. Karena dengan sikap ini kita mampu mengurangi dampak psikologis dari bencana, seperti stress, dan depresi. Ketiga, memperbaiki diri dengan cara tidak mengulangi kesalahan-kesalahan yang lalu. Keempat, memperbanyak amal soleh.Semoga Allah melimpahkan rizki dan berkah ke negeri ini. Amiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: