THe NaTuRe

IDENTITAS SOSIAL DAN PERILAKU AGRESIF

Posted by Ivan on November 13, 2010



Sejak era reformasi bergulir pada tahun 1997/1998, Indonesia mengalami krisis multidimensi, mulai dari krisis identitas, budaya, spritualitas dan kepercayan. Dampak yang ditimbulkan oleh arus reformasi sangat luar biasa bagi masyarakat Indonesia. Terjadi perubahan perilaku masyarakat baik secara individu maupun secara kelompok. Masyarakat cenderung sensitif; agresif; dan berlebihan dalam bertindak. Tingkat perilaku agresif, kekerasan dan tingkat kriminalitas cenderung naik dari tahun ke tahun. Ini bisa dilihat dari intensitas penanyangan dan pemuatan dari Televisi, media cetak dan radio. Tidak hanya itu saja, dampak reformasi terlihat dari prubahan sikap mental dan emosi masyarakat Indonesia dalam berperilaku. Masyarakat terlalu “bersemangat”, dan kurang dewasa dalam meynikapi segala permasalahan. Kekuatan, baik fisik, ekonomi maupun kekuasaan menjadi suatu alat utama dalam pernyelesaian masalah.
Sebagai masyarakat yang hidup dalam budaya kolektivisme, peran kelompok dalam kehidupan sangat penting. Hampir semua orang terlibat dalam suatu kelompok. Mulai dari tingkat yang paling kecil (keluarga) sampai dengan tingkat yang luas (partai, organisasi, suku, agama). Di satu sisi Keberagaman budaya, organisasi, etnis, dan agama memberi kekayaan yang tak ternilai bagi masyarakai Indonesia, namun di sisi lain hal itu menjadi perluang timbulnya konflik antar kelompok. Dan ini telah terbukti, banyak konflik—yang berujung pada perilaku agresif dan kekerasan yang terjadi di Indonesia. Lalu timbul pertanyaaan: Mengapa ini terjadi?
Menurut Berkowitz (1995) perilaku agresif adalah suatu tindakan,ucapan baik secara langsung maupun tidak langsung menyakiti atau merugikan orang lain. Dalam perilaku agresif terdapat unsur niat, atau unsur kesengajaan dalam melakukan perilaku yang merugikan orang lain. Banyak faktor yang menjelaskan mengapa perilaku agresi bisa muncul. Salah satunya adalah identitas sosial kelompok. Identitas sosial merupakan atribut atau ciri-ciri yang melekat pada individu, yang berkaitan dengan seting sosial. Menurut Hogg dan Abram (dalam Nuraeini, 2005) menjelaskan identitas sosial sebagai rasa keterikatan, peduli, bangga dapat berasal dari pengetahuan seseorang dalam berbagai kategori keanggotaan sosial dengan anggota yang lain, bahkan tanpa perlu memiliki hubungan personal yang dekat, mengetahui atau memiliki berbagai minat.
Dalam psikologi sosial, terdapat dua teori identitas yang dominan, yaitu teori identitas (Stryker, 1977; Burke, 1980) dan teori identitas sosial (Tajfel 1970; Tajfel and Turner, 1979). Awalnya, teori identitas Social berasal dari teori perbandingn sosial (social comparison theory) dari Festinger (1954), yang menyatakan bahwa individu akan berusaha melihat diri mereka terhadap orang lain yang memiliki perbedaan kecil atu serupa. Teori identitas (identity theory) secara eksplisit lebih fokus terhadap srtuktur dan fungsi identitas individual, yang berhubungan dengan peran perilaku yang dimainkan di masyarakat. Sedangkan teori identitas sosial menyatakan bahwa identitas diikat untuk menggolongkan keanggotaan kelompok “ teori identitas sosial dimaksudkan untuk melihat psikologi hubungan sosial antar kelompok, proses kelompok dan sosial diri” (Hogg et al, 1995). Menurut Jacobson (2003) teori identitas sosial fokus terhadap individu dalam mempersepsikan dan menggolongkan diri mereka berdasarkan identitas personal dan sosial mereka. Lebih lanjut teori identitas sosial menyatakan ketika individu bergabung dengan kelompok, dan kelompok itu memiliki status yang superior dibandingkan kelompok lain, maka hal akan meningkatkan self -image mereka sendiri.
Dalam kelompok, identitas kelompok dapat menjadi identitas diri anggota kelompoknya. Secara psikologis, Identitas kelompok berpengaruh terhadap perilaku anggotanya. Ada rasa kebanggaan dan perasaan senang dengan identitas yang dimilikinya. Identitas sosial yang yang tinggi nantinya bisa melahirkan sikap konformitas terhadap kelompok. Menurut Zillmann, dkk (dalam Jacobson, 2003) Menimbulkan rasa pertemanan dan solidaritas antar anggota kelompok. Pada stuasi-situasi tertentu, ini bisa menimbulkan dampak negatif, yaitu perilaku agresif. misalkan kerusuhan etnis antara betawi dengan madura atau kerusuhaan antar suporter bola.
Setiap individu memiliki identitas, baik secara personal maupun secara sosial. Ketika individu akan bergabung pada sebuah kelompok, pada dirinya melekat identitas personal dan ketika ia telah menjadi anggota sebuah kelompok, maka ia akan mengidentifikasi terhadap kelompoknya, yang menyebabkan identitas personalnya terabaikan:akan melebur atau tertutupi oleh identitas sosial (Vugt & Hart, 2004). Namun demikian, hubungan antara indentitas personal dengan identitas sosial sangat dekat, dalam artian identitas personal dapat menembus identitas sosial kelompok (Jacobson.2003). selain itu, dalam memililih kelompok, seseorang akan mempertimbangkan kesamaan antara identitas personal dengan identitas kelompok yang akan dipilihnya. Hal ini dikarenakan untuk memudahkan individu dalam melakukan penyesuaian terhadap kelompoknya.
Dalam banyak kasus, setiap Kelompok berusaha untuk menjadikan anggotanya memiliki identitas sosial yang kuat dan inheren terhadap kelompoknya. ketika seseorang telah memiliki identitas yang kuat terhadap kelompokya, maka secara psikologis, ia akat sangat terikatl dan pada akhirnya aka melahirkan solidaritas dan komitmen terhadap kelompok (Zillmann, dkk., dalam Jacobson, 2003). Hal senada juga disampaiikan oleh Vugt dan Hart (2004), yang menatakan bahwa identitias sosial akan mempengaruhi loyatis dan intergrias anggota kelompok. Beberapa kasus menunjukan bahwa solidaritas terhadap kelompoknya terkadang membawa individu ke arah perilaku yang melanggar norma-norma. Misalkan kasus tawuran supoter Bola (Bonek persebaya dan persija Jakarta). Selain itu, pengaruh kelompok terhadap individu sangat kuat bila kondisi kelompok tersebut mengalami suatu ketidakadilan. Ada rasa senasib dan sepenanggungan. Bila kondisi semacam itu terjadi, maka individu dalam kelompok akan cenderung patuh terhadap kelompok. Apa yang disuruh kelompok dilakukan. Walaupun hal itu melanggar hukum. Dengan kata lain konformitas individu terhadap kelompok dapat berpotensi memunculkan perilaku agresif (Sarwono, 1999).
Sejauh mana peran identitas sosial terhadap perilaku agresif anggota kelompok?pertanyaan itu perlu dikaji secara mendalam. Menurut hasil penelitian Suryanoto (2000) mengenai pengaruh identitas sosial terhadap agresi penonton sepakbola, dinyatakan bahwa identitas sosial tidak menunjukan perbedaan tingkat agresi penonton, sedangkan hasil pertandingan (menang-kalah) mempengaruhi agresi. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen, dengan menggunakan sepabola mini. Agresi penonton diukur melalui banyaknya lemparan penonton kerah pertandingan, sedangkan identitas sosial dimanipulasi melalui pemberian pita dan ikat kepala. Hasil peneltian ini menunjukkan bahwa identitas sosial tidak memiliki pengaruh pada perilaku agresif kelompok. tetapi situasi lapangan yang lebih memiliki pengaruh timbulnya perilaku agresif.
Melihat kondisi yang sesungguhnya di masyarakat, identitas kelompok (etnis, agama, organisasi) yang memiliki prinsip, karakter dan identitas sosial kuat, menunjukan seringya terjadi konflik, yang tak jarang berujung pada perilaku agresi. misalkan, konflik di maluku, poso, Dayak dengan Madura, dan Bonek (surabaya) dengan Jack mania (persija). Proses identifikasi yang terjadi dalam kelompok memiliki dampak terhadap perilaku anggota kelompok tersebut. Kelompok yang memilki identitas sosial kuat akan secara langsung atau langsung memiliki keterikatan emosional antaranggota kelompok. Identitas sosia;yang dibangun kelompok bisa melaui simbol, nilai, budaya, bahas dan visi. Ketika semua sudah terinternalisasikan pada setiap anggota kelompok, maka timbul komitmen, solidaritas, dan tanggung jawab terhadap sesama anggota dan kelompok. banyak perilaku agresif yang terjadi antar kelompok karena persaan tidak terima anggota kelompoknya disakiti oleh kelompok lain. Identitas sosial telah mengikat setiap anggota kelompok, dan telah menjadikan arah petunjuk anggota dalam bersikap dan berperilaku.
Ketika tujuan kelompok tidak sesuai dengan tujuan individu, maka terjadi sebuah dilema dalam diri individu. Dilema ini terjadi karena ada kepentingan pesonal dan kelompok berbeda. Bila tidak mengikuti norma kelompok, maka ia akan “ditinggalkan” atau tidak dihargai, sedangkan bila diikuti secara akan bertentang dengan identitas personalnya. Kalau ia memiliki komitmen kuat terhadap kelompok, maka norma kelompok akan diikuti. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Tolunay (2006) yang menyatakan bahwa individu akan dipengaruhi oleh mayoritas pendapat dari kelompok. Banyak kasus yang menunjukkan bahwa perilaku agresi yang dilakukan karena tuntutan dari mayoritas pendapat kelompok. dengan hal itu, perilaku agresi terlegitimasi oleh kelompok.
Identitas sosial sangat berkaitan dengan persepsi., karena dalam proses identitas sosial peran persepsi sangat penting. Keterikatan individu dalam suatu kelompok secara tidak langsung akan mempengaruhi persepsinya terhadap kelompok sendiri dan kelompok lain atau dikenal. Menurut Tajfel dan Turner (Nuraeini, 2005) manusia mempunyai kecenderungan untuk membuat kategorisasi sosial atau mengklasifikasikan individu-individu dalam kategori-kategori atau kelompok-kelompok sosial tertentu. Pada umumnya individu-individu membagi dunia sosial ke dalam dua kategori yang berbeda yakni “kita” dan “mereka”, “kita” adalah ingroup sedangkan outgroup adalah mereka. Ketika terjadi persaingan antar dua kelompok, maka kelompok lain sebagai out-group disepsepsikan sebagai musuh atau yang mengacam (Sear., dkk., 1994). Bila itu terjadi, potensi konflik yang menjurus kepada perilaku agresif bisa terjadi. Menurut Triands (dalam Setiadi, 2001) perilaku agresif sering muncul atau ditemukan pada out-group. Misalkan konflik antara suku Madura dan Dayak atau kasus tawuran antar pelajar. Selain itu, dalam interaksi antarkelompok terjadi perbandingan sosial. Setiap anggota berusaha membandingkan kemlompoknya dengan kelompok lain. dalam perbandingan sosial itu, seseorang cenderung menilai kelompoknya lebih positif atau lebih baik dari kelompok lainnya, kelompok lain sering dianggap sebagai suatu hal yang negatif. Penilaian negatif ini yang natinya berpotensi menimbulkan perilaku agresif.

Referensi

Berkowitz., L.1995. Agresi 1:sebab dan akibatnya.penerjemah :Hartini Woro Susiatni. Jakarta: PT.Pustaka Binaman Pressindo
Jacobson, B. 2003The Social Psychology of the Creation of a Sports Fan Identity: A Theoretical Review of the Literature. http://www.athleticinsight.com/
Sarwono, S. 1999. Psikologi Sosial. Jakarta:Balai Pustaka.
Sears, D.G., Freedman,J.L & Peplau, L.A. 1994. Psychology Sosial. Jilid 2. Alih Bahasa:Michael Adriyanto. Jakarta :Erlangga

Setiadi, B.N. 2001. terjadinya Tindak kekerasan Dalam Masyarakat: Suatu Analisa Teoritik. Jurnal Psikologi Sosial. No IX/TH VII/Juni.

Suryanto . 2004. Pengaruh Identitas Sosial Dan Hasil Pertandingan Terhadap Agresi Penonton Sepakbola. Abstraks. .Http://Adln.Lib.Unair.Ac.Id//

Tolunay, A. 2006. Group identity effects on social influence. Abstracts. Dalam http://www.lib.umi/disesrtation/fullcit/

by

Ivan M. Agung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: