THe NaTuRe

TRADISI SALING MEMAAFKAN

Posted by Ivan on September 18, 2010



Pernahkah Anda berbuat salah?pernahkah Anda meminta maaf atau memberi maaf?tentu kita pernah mengalami itu semua. Lalu kapan tepatnya saling memaafkan itu dilakukan?. Di masyarakat kita ada kebiasaan setiap kali menjelang ramadahan tiba kegiatan saling memaafkan di antara keluarga, teman, dan suadara marak terjadi. Media yang digunakan pun beragam mulai dari SMS, internet, telepon dan langsung face to face. Lalu apa sebenarnya makna dari kegiatan saling memaafkan ? apakah hanya ketika ramadhan dan idul fitri tiba baru saling memaafkan?

Saling memaafkan sepatutnya dilakukan tidak hanya saat menjelang ramadahan dan idul fitri, tetapi dapat dilakukan setiap saat ketika kita berbuat salah. Dan kita menyadari bahwa manusia tak pernah lepas dari kesalahan. “setiap manusia itu melakukan kesalahan, Sebaik-baik orag yang melakukan kesalahan adalah orang yang suka bertobat (H.R Tirmidzi dan ibnu Majah). Menurut Hadist tersebut setiap kita melakukan kesalahan hendaknya kita langsung bertobat kepada Allah dan bila kesalahan itu terkait dengan hubungan antarmanusia, kita dapat meminta maaf.
Islam sangat menganjurkan kita menjadi orang pemaaf. Setiap kesalahan yang dilakukan oleh orang lain terhadap diri kita hendaknya lebih mengutamakan sikap memaafkan, walaupun islam membolehkan membalasanya sesuai dengan apa yang kita terima (Asy-syuura: 40, 43). “…pemafaan itu lebih dekat dengan taqwa…” Al-Baqoroh: 237). Sungguh mulia ajaran islam yang lebih mengutamakan perdamaian antarmanuasia.
Namun dalam kehidupan sehari-hari perilaku memaafkan tidak mudah dilakukan. Banyak orang yang secara lisan sudah memaafkan, tetapi secara hati atau psikologis masih kecewa alias belum memberi maaf. Perilaku Pemaafan adalah masalah hati atau psikologis. Oleh karena itu, perilaku pemaafan memerlukan usaha yang kuat, keberanian, dan keikhlasan untuk menerima atau melupakan perlaku yang menyakitkan yang diterima.
Menurut Wardhati dan Faturochman (2006) pemafaan merupakan kesedian meninggalkan kekeliruan masa lalu yang menyakitkan, tidak mencari nilai-nilai amarah, dan kebencian, dan menepis keinginan untuk meyakiti orang lain dan diri sendiri. Jadi secara psikologis, pemaafan itu dapat dilihat dari tiga aspek, pertama. Kognitif (pikiran). Secara kognitif indikatornya: berpikiran positif, dan tidak adanya keinginan untuk menyakiti/membalas terhap orang yang melakukan kesalahan. Kedua, hati (emosi), hal ini dapt dilihat dari keikhlasan dan meninggalkan rasa kecewa, membenci, dan marah terhadap orang yang melakukan kesalahan. Ketiga, perilaku. indikator perilaku dapat dilihat kedekatan dan kualitas hubungan yang terjadi.
Terciptanya saling memaafkan tergantung oleh dua pihak yang terlibat, yaitu pemohon dan pemberi maaf. Pemohon biasanya orang yang melakukan kesalahan, sedangkan pemberi adalah orang disakiti. Secara psikologis, kedua pihak memiliki beban psikologis dalam meminta atau memberi maaf. Tampaknya beban pemberi maaf lebih berat daripada peminta maaf. Walaupun ini masih dapat diperdebatkan, tergantung kasus dan konteks. Meminta maaf memerlukan keberanian untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada orang yang disakiti. Sementara memberi maaf berarti ada keinginan dan keberanian untuk menghilangkan perasaan (marah, bencit, sakit hati) kepada orang yang meminta maaf. Ini membutuhkan usaha yang kuat dan keikhlasan, apalagi kasusnya sangat pribadi dan berat. Misalkan, si A berbuat salah kepada si B, si A minta maaf, secara lisan si B memaafkan, tetapi masih kecewa, ini artinya, secara hati si B belum memafkan si A. Sebaliknya, ada orang yang mau memberi maaf kalau orang yang melakukan kesalahan meminta maaf, seperti, si B sebenarnya mau memberi maaf, asalkan si A mau meminta maaf kepada si B. Sebenarnya perilaku saling memaafkan sangat dianjurkan dalam konteks hubungan antarmanusia, tanpa meminta maaf pun hendaknya kita memberi maaf kepada siapa pun yang melakukan kesalahan kepada kita.
Lalu bagaimana bila permintaan maaf kita ditolak seseorang? Yang harus dilakukan bila kita berbuat salah adalah meminta maaf dengan setulus hati. Caranya meminta maaf dan melakukan kebaikan kepada orang yang kita sakiti. Mudahan-mudahan dengan cara tersebut permintaan maaf kita diterima Bila tidak, maka kita serahkan semua urusan tersebut kepada Allah. Namun seyogyanya, seberat apapun kesalahan yang dilakukan hendaknya kita saling memberi maaf, seperti dalam kasus pembunuhan, islam menganjurkan untuk memaafkan kepada pembunuh sehingga hukum qisas tidak terjadi.
Perilaku memaafkan melibatkan unsur-unsur psikologis yang membutuhkan proses. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku pemaafan, yaitu, pertama, atribusi, yaitu bagaimana kita memahami penyebab perilaku orang lain. Kalau kita cenderung menilai bahwa kesalahan yang dilakukan disebabkan oleh faktor situasional, maka lebih mudah dimaafkan. daripada yang disebabkan faktor internal. Misalkan si A datang terlambat karena macet (situasional) atau si A datang terlambat karena malas (internal). Kedua, tingkat kesalahan (kelukaan). Semakin berat dan dalam kesalahan yang dilakukan, maka semakin berat unbtuk memaafkan. Ketiga, kualitas hubungan. Orang yang memiliki hubungan baik tentunya lebih mudah saling-memafkan daripada yang kualitas hubungan tidak baik. keempat, kepribadian. Orang dengan tipe kepribadian ekstrovet (terbuka) cenderung mudah memaafkan daripada kepribadian introvet (tertutup). Selain itu, perilaku memaafkan tergantung bagimaina kita melihat kesalahan. Orang yang memiliki ego tinggi cenderung menganggap bahwa dia tidak melakukan kesahan (walaupun sebenarnya dia bersalah) sehingga dia enggan untuk meminta maaf. Bila kedua karakteristik orang yang bekonflik sepert inii, maka perilaku saling memaafkan tidak terjadi.
Bila setiap manusia lebih mengutamakan perilaku memaafkan, maka, kehidupan ini akan lebih damai, tenang, dan sejahtera. Tidak ada perkelahian, konflik, dan perang antar manusia. Ada beberapa manfaat yang diperoleh dari perilaku saling memaafkan, diantaranya: pertama, secara personal, perilaku memaafkan dapat menghilangkan penyakit hati (dendam, marah, kecewa) yang pada akhirnya menumbuhkan sikap lapang dada dan ketenangan hati. Kedua, secara interpersonal, perilaku memaafkan dapat meningkatkan silaturahmi, persaudaraan, dan kualitas hubungan antar sesama manusia dan, ketiga, secara agama dapat menambah nilai pahala ibadah. Memaafkan merupakan anjuran dalam agama islam. Setiap kesalahan yang dilakukan kepada kita hendaknya lebih mengutamakan perilaku memaafkan.

oleh
Ivan Muhammad Agung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: