THe NaTuRe

ABU DZAR AL-GHIFARI

Posted by Ivan on September 18, 2010


Abu Dzar salah satu sahabat Nabi Muhammad yang terkenal dengan gigih, dan berani dalam memperjuangkan islam. Nama aslinya adalah Jundub bin Junadah bin Qais bin “Amir bin Mulil bin Sha”ir bin Haram bin Ghifar. Dia berasal dari kabilah Ghifari, maka itu dia dijuluki Al-Ghifari. Dia berasal dari Kabilah Ghifari yang tinggal di pedalaman padang pasir. Sumber pendapatannya berasal dari harta benda kafilah yang lewat sebagai upeti keselamatan mereka.

Sebelum masuk islam, abu Dzar termasuk orang yang suka berpikit dan merenung. Dia berpikir kenapa berhala-berhala menjadi sesembahan, padahal berhala tidak dapat memberikan manfaat sedikit pun. Kegelisahan itu menimbulkan keinginan dan harapan bahwa munculnya seorang nabi yang membawa kebenaran.
Harapan Abu Dzar tampak akan terwujud. Dia mendengan kabar bahwa di Mekkah ada seseorang yang mengaku nabi. Untuk meyakininya, dia mengutus Saudaranya (Anis) untuk mengecek kebenarannya. Kebetulan, dia ketemu dengan Rasulullah, dan mendengarkan semua ucapannya dan perkataan. Ucapannya penuh hikmah. Kemudian dia menceritakan kepada Abu Dzar tentang pertemuannya dengan Rasululloh.
Abu Dzar semakin penasaran dan merasa tidak puas. Dia berkeinginan untuk melihat secara langsung. Lalu dia pergi ke Mekkah. Dan berpesan kepada Anis, untuk menjaga keluarganya ketika ia pergi. Setelah menempuh perjalanan yang berat melintasi panasnya gurun, akhirnya ia sampai di mekkah. Dia langsung menuju ke mesjid dan berharap langsung ketemu Rasululloh. Namun sampai malam hari dia belum ketemu rasulullah, akhirnya Ali mengajak Abu Dzar menginap di Rumahnya. Abu Dzar pun menginap dan besoknya ia menunggu di masjid. Hari kedua sama dengan hari pertama, dia tidak ketemu dan Ali pun mengajak menginap di rumahnya lagi. Pada hari ketiga, Ali pun mulai bertanya kepada Abu Dzar tentang keperluannya. Akhirnya Abu Dzar mengatakan bahwa ia ingin bertemu Rasulullah. Dan Ali pun mengantarkannya ke Rasululloh.
Ketika ketemu Rasululloah dan mendengarkan bacaan Al-quran, Abu Dzar mengucapkan kalimat syahadat. Lalu Rasul bertanya “ dari manakah Anda berasal?” dari kabilah Ghifar” jawab Abu Dzar .Alangkah terkejut dan terkesimapnya Rasul. Betapa tidak, kabilah Ghifar terletak jauh di pedalaman padang pasir, dan kabilah Ghifar termasuk kabilah yang suka merampas dan merampok harta benda kafilah yang lewat di daerah mereka.
Pada saat itu, dakwah Rasululloh masih dilakukan secara terbatas dan tersembunyi, lalu Abu Dzar menghampiri Rasululloh dan mengatakan. “Apa yang kau perintahkan kepada saya wahai Rasululloh?”
“pergilah ke kaummu dan ajaklah mereka masuk islam. Tinggallah di sana sampai ada perintahku selanjutnya” jawab Rasululloh.
Abu Dzar mrmpunyai watak yangtegas terus terang blak-blakan tetapi penuh kejujuran. Dia tidak mau menyebarkan islam secara sembunyi-sembunyi. Ia ingin orang tau kalau dia adalah muslim. Namun sikapnya diingatkan rasulullah “jangan kamu kabarkan keimananmu kepada siapapun di mekkah ini sebab aku khawatir mereka akan membunuhmu” kata Abu Dzar “demi zat yang jiwaku didalam genggamannya saya tidak akan meninggalkan kota mekkah sampai aku datang ke mesjid dan memproklamirkan suara kebenaran didepan kumpulan orang-orang kurais”. Kemudian abu dzar mendatangi mesjid ketika orang qurais ramai berada di situ. Kemudian dengan suara lantang ia berseru “wahai orang-orang qurais aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa muhammad utusan Allah”, ucapan tersebut membuat orang-orang Qurais marah dan langsung mengeroyoknya hampir tewas kalau saja tidak ditolong oleh Allah melalui Abbas bin Abdul Muthalib.
Kemudian Abu Dzar kembali ke Rasul dan Rasul menyuruhnya pulang ke kabilahnya untuk menyiarkan agama islam di sana. Kemudian Abu Dzar menyiarkan islam dimulai dari keluarganya dan orang-orang terdekatnya sampai akhirnya dakwahnya meluas dan hampir semua bani Ghifari memeluk islam dan kemudian dia berencana meluaskan dakwahnya ke suku lain yaitu bani Aslam dan disana dakwah diterima dengan baik dan orang bani Aslam berbondong-bondong masuk islam.
Setelah mendengan kabar rasul telah membentuk negara Islam di Madinah. Abu Dzar berkeinginan hijrah ke madinah bersama kaumnya dan kaum bani Aslam. Ketika dalam perjalanan metreka mengumandangkan Takbir. Ketika sampai di Mekkah, mereka disambut Rasululloh dengan senang hati dan mengucapkan selamat kepada mereka.
Abu Dzar tinggal di kota madinah, berdekatan dengan Rasululloh. Abu dzar minta untuk menjadi tetangga Rasul. Dengan harapan agar bisa mengabdi, dan menimba ilmu dari Rasullulloh. Permintaannya pun dikabulkan rasululloh. Dan dia pun menjadi sahabat yang ikhlas, berimanan dan jujur dalam segala hal.
Pada suatu hari Rasululloh bertanya kepada Abu Dzar.
“Abu Dzar, bagaimana pendapatmu jika kamu menemui pemimpin mengambil harta rampasan dan harta milik umum untuk kepentingan pribadi?”
“Demi Allah. Jika aku mendapati pemimpin seperti itu, aku pasti memenggal kepalanya dengan pedangku ini”jawab Abu Dzar dengan semangat.
Rasululloh sudah menyadari kejujuran, keterusterangan, kebersihan jiwa dan kelulusan sikap Abu Dzar. Rasululloh menyimpulkankan bahwa nantinya Abu Dzar bakal sering berseteru dan menemui kesusahan dalam menghadapi penguasa. Rasululloh lantas bertanya:
“Bagaimana kalau kamu saya beri tahu cara bersikap yang lebih halus?
“boleh, sikap seperti apa yang engkau maksudkan itu” tanya Abu Dzar.
“Bersabarlah sampai kamu bisa menjumpaiku (wafat)” jawab Rasulullloh.
Nasehat rasululloh senantiasa dijadikan pedoman hidup Abu Dzar.
Ketika perang Tabuk, Abu Dzar sebagai panglima perang. Sementara itu di barisan belakang orang munafik yang berusaha lari dari medan perang. Caranya berusaha melambatkan kudanya. Pada saat itu Abdu Dzar menunggangi kuda lemah dan jalannya lambat. Akhirnya, dia tertinggal dari rombongan. Ketika para sahabat mengetahui Abu Dzar tertinggal. Mereka berseru:
“Wahai rasululloh, Abu Dzar ketinggalan di belakang”
“kalau dia punya niat baik, maka Allah akan membantu menyusul kita”jawab Rasululloh.
Abu Dzar mulai memutar otak. Akhirnya dia memutuskan untuk berlari di padang pasir sambil memanggul bekalnya di pundaknya.
“wahai Rasululloh ada ada orang yang berlari menyusul kita” kata sahabat
“Mudah-mudahan itu Abu Dzar Al-Ghifari”jawab Rasululloh.
Semakin lama Abu Dzar mulai mendekati rombongan dan akhirnya para sahabat mengetahui kedatangan Abu Dzar. Rasululloh pun bersuka cita dan berdoa’ untuk sahabatnya itu.
“Mudah-mudahan Allah mengasihi Abu Dzar Al-Ghifari
Dia berjalan sendirian
Dia wafat sendiriran
Dan dia dikumpulkan sendirian”
Setelah Rasululloh wafat, Abu Dzar sangat sedih. Kota madinah yang begitu luas, terasa semit baginya. Ia pun merasa tidak betah dan ingin pindah dari sana. Akhirnya dia pindah ke gurun sahara yang luas sampai pada masa kholifat Umar bin khattab. Pada masa Usman Bin Affan, dia turun gunung dan melihat kehidupan kaum muslim yang jauh berbeda ketika zaman Rasululloh. Banyak orang yang terlena dan bergelimang harta. Mereka lalai dengan urusan agama. Kondisi itu membuat Abu Dzar marah dan ingin menghabisi mereka semua. tapi dia ingat pesan rasululloh: Bersabarlah sampai kamu bisa menjumpaiku (wafat)”. Dia mematahui nasehat rasululloh tersebut. Tetapi, dia tetap memeberi nasehat dan menghardik penguasa yang berbuat zalim dan maksiat.
Akibat seringnya Abu Dzar mengingatkan penguasa, membuat para penguasa merasa terganggu dan melaporkan khoifah Usman Bin Affan. Dia diminta tetap tinggal di kota Madinah. Tapi, hatinay tidak berada di madinah. Dia pun pindah ke daerah al-Rubdzah, sebuah yang sangat jauh dari kota Madinah.dia hidup bersama keluraganya sampai akhir hayatnya.
Abu dzar mengasingkan diri dari hiruk pikuk kehidupan dunia. Dia berlaku zuhud Dan bersikap apa adanya. Bahkan para sahabat heran melihat kehidupan Abu Dzar yang sangat sederhana. Benar kata Rasululloh, bahwa Abu Dzar meninggal sendirian. Dia wafat tahun 32 H.keluraganya yang menguruskan jenazahnya. Ketika itu, sahabat nabi, Abdulloh ibnu Mas’ud kebetulan lewat bersama sahabat lainnya. Begitu tahu siapa yang meninggal, dia langsung mensholati dan mengurus pemakamannya.
Diringkas dari Seri sahabat Nabi, oleh Hilmi ‘Ali Sya’ban. Mitra Pustaka. 2004.
By
Ivan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: