THe NaTuRe

Memahami Perilaku Korupsi

Posted by Ivan on August 28, 2010


Perilaku Korupsi

Manusia adalah makhluk yang paling sempurna diciptakan Allah di muka bumi ini. Manusia dipercaya untuk mengurusi dan mengelola bumi demi kepentingan manusia. Dan tugas utama manusia adalah menyembah kepada Allah. Oleh karena itu, Allah mengutus nabi dan rasul ke muka bumi ini untuk mengatur bagaimana cara taat atau beribadah kepada Allah. Namun kenyataanya manusia banyak yang ingkar dan tidak bersyukur kepada Allah. Manusia cenderung menuruti hawa nafsunya, misalkan dalam hal mengumpulkan harta.

Mengumpulkan harta tidak dilarang dalam islam, bahkan diutama bila digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat. Tetapi bila mengumpulkan harta berlebihan, dengan caranya tidak benar dan digunakan untuk hal-hal tidak bermanfaat, maka islam melarangnya. Sekarang kita lihat di sekitar kita, begitu banyak manusia yang bekerja demi mendapatkan harta, tanpa memperhatikan bagaimana cara mendapatkannya:apakah halal atau haram?. Memang kita akui kebutuhan mansuia terus naik, dan kebutuhan plus keinginan tidak pernah terpuaskan. Seperti Sabda Rasul yang intinya mengatakan yang bahwa manusia itu tidak akan pernah puas walaupun bukit uhud dijadikan emas, maka manusia akan minta satu bukit dan hanya kematian yang dapat menghentikannya.
Menurut Maslow , ahli psikologi ada lima kebutuhan manusia, yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial /cinta, kebutuhan dihargai, dan aktualisasi diri. Kebutuhan ini sifatnya hirarki, artinya kebutuhan yang pang dasar harus dipenuhi sebelum memenuhi kebutuhan yang diatasnya. Walaupun pada kondisi tertentu teori ini tidak berlaku alias perlu revisi. Untuk memenuhi kebutuhan itu semua perlu menggunakan alat, yaitu uang. Uang memang bukan segala-galanya, tetapi untuk meraih segala-galanya dengan uang. Jadi uang itu penting! Uang adalah kekuatan atau the power of money. Bagaimana memperolehnya?umumnya bekerja , bisa halal or haram.
Zaman sekarang antara yang hak dan bathil sudah sulit dibedakan. Asalnya ,pekerjaannya halal, tapi dalam prosesnya terjadi hal-hal yang diharamkan, ataupun sebalik pekerjaanya haram dan tapi proses dan tujuan halal/baik. Dalam islam, harta yang bermanfaat adalah harta yang diperoleh dari pekerjaan yang halal, proses dan tujuannya pun halal/baik juga. Allah ta’ala hanya menerima harta ang baik lagi halal.
Fenomena sekarang yang ini lagi marak adalah perilaku korupsi yang dilakukan oleh pejabat-pejabat negara. Korupsi adalah mengambil milik negara untuk kepentingan atau keuntungan pribadi. Perilaku korupsi biasanya dilakukan secara individu maupun kolektif. Biasanya perilaku korupsi melibatkan minimal dua orang. Atau yang sering kita kenal KKN. Kolusi, korupsi dan nepotisme. Perilaku korupsi bisa berawal dari kolusi dan nepotisme. Dan pola seperti ini sering terjadi di negeri ini. Lalu timbul pertanyaan: kenapa para manusia (pejabat/pegawai dll) melakukan korupsi padahal secara kebutuhan sudah terpenuhi?apa akar permasalahannya?
Kita heran dengan bangsa ini, bangsa yang terkenal dengan agamis, berbudaya dan humanis. Setiap tahun menghajikan 200 ribu orang ke mekkah. Tetapi kenyataannya, perilaku korupsi masih merajalela mulai dari skala kecil sampai besar. Bahkan tak jarang orang bertitel haji melakukan korupsi. Kenapa? Sikap dan perilaku kadang tak seiring. Sikap dapat saja memprediksi perilaku. Namun untuk korupsi tampaknya berbeda. Sikap dan perilaku dalam korupsi berbeda. Sikap adalah penilaian terhadap sesuatu (setuju atau tidak setuju) Sikap terhadap korupsi negatif artinya kita menolak korupsi karena merusak sendi-sendi kehidupan manusia. Kenyataaannya sikapnya negatif tetapi peraku korupsi tetap dilakukan.
Ada tiga jenis/tipe pelaku korupsi. Pertama, korupsi secara terencana (sengaja). Korupsi yang dilakukan dengan niat untuk melakukan korupsi. Biasanya korupsi dilakukan dengan persipan dan melibatkan berbagai pihak. Korupsi biasanya dilakukan oleh orang yang memiliki kekuasaan atau kekuatan. Kedua, korupsi tidak terencana, yaitu korupsi yang bersifat situasional, artinya tergantung kondisi keadaan, kalau ada peluang dan kesempatan, korupsi jalan. Kalau tidak yang gak jadi korupsi. Dan kebanyakan korupsi dilakukan dengan tipe tidak terencana/kondisional. Ketiga, korupsi terpaksa/dizholimi. Tipe semacam ini sering terjadi pada orang-orang baik yang tidak memiliki kekuatan untuk menentang. Mereka terpaksa melakukan korupsi karena lingkungan atau kebiasaan yang menuntut seperti itu.
Secara sosio psikologis ada beberapa alasan kenapa orang melakukan korupsi. Pertama, kebutuhan dan ketamakan. Orang yang melakukan korupsi jelas membutuh uang untuk memperoleh “kebutuhannya”. Kebutuhan seperti apa?jelas bukan kebutuhan primer, pelaku korupsi lebih berorentasi pada kebutuhan sekunder/tersier. Oleh karena itu perilaku korupsi selalu identik dengan sifat tamak dan rakus. Orang macam ini, tidak akan pernah puas, kalau kata Maslow orang semacam ini hanya berada pada pada level terbawah, kebutuhan fisiologis dan tidak pernah mencapai aktualisasi diri.
Kedua, lingkungan kerja., yaitu situasi fisik atau psikis (budaya, kebiasaan, kecenderungan) dimana seseorang bekerja. Tak jarang orang pada awalnya baik, ketika masuk pada suatu instansi yang memiliki kultur korupsi cenderung lebur atau terbawa arus menjadi bagian atau pelaku korupsi. Walaupun tidak semua, tetapi kebanyakan.. ya!. Apa yang dimaksud kultur korupsi?kultur korupsi adalah kondisi sosio-psikologis di tempat kerja yang berpotensi atau berkecenderungan untuk melakukan perilaku korupsi. Kultur seperti berasal dari kebiasaaan korupsi yang tercipta di tempat kerja. Suasana ini tentunya mempengaruhi individu dalam berkerja. Pekerjaan lancar atau cepat selesai bila ada “pelicinnya”, sebaliknya pekerjaan dipersulit bila tida ada uangnya. Jadi uang disini berfungsi sebagai “katalisator” pekerjaaan. Lingkungan seperti inilah yang membuat pihak-pihak yang tidak melakukan korupsi ikut terlibat dalam lingkaran korupsi.
Ketiga, kontrol internal dan eksternal lemah. Kontrol internal adalah kontrol diri dalam menilai apakah pekerjaan itu benar atau salah. Selama ini kontrol diri pelaku korupsi lemah. Artinya, mereka tahu bahwa perilaku korupsi salah, dan Allah maha melihat apa yang mereka kerjakan, tetapi tetap dilakukan. Standar moral, budaya dan agama yang digunakan tidak bisa mencegah perilaku korupsi. Ini berati cara beragama belum benar. Sedangkan, kontrol eksternal adalah kontrol dari luar individu, bisa dari pihak-pihak yang berwenang, seperti BPK, dan KPK.
Perilaku korupsi telah mengakar dan melilit bangsa Indonesia. karena itu , Untuk mengatasi perilaku korupsi di negeri ini perlu kerja keras dari semua pihak, mulai dari pemimpin pemerintahan, oraganisasi keaagamaan dan tokoh masyarakat, Pemimpin di setiap level harus memberikan tauladan yang baik bagi pengikutnya. Sementara pengikutnya harus berani mengatakan yang salah itu salah, yang benar itu benar kepada pemimpin. Seperti hadis Rasul” bila kamu melihat kemungkaran, maka rubahlah dengan kekuatan, bila tidak bisa dengan perkataaan, bila tidak bisa dengan hatimu. Itu lah selemah-lemahnya iman.”
Akhirnya, kebersamaan semua elemen bangsa Indoensia harus diwujudkan dengan satu niat dan tekad, yaitu Tolak korupsi!!. Sikap terhadap korupsi harus jelas, tegas dan tidak kompromi. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai nilai budaya, etika dan agama. Bangsa yang selalu menujung prinsip-prinsip kemanusiaan. Bangsa yang selalu memperhatikan nasib masyarakat kecil. Semoga bangsa Indonesia lepas dari permasalahan korupsi, menjadi bangsa yang bermartabat di mata dunia. Amiin
by
Ivan M. Agung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: