THe NaTuRe

Kajian Psikologi dalam Hukum

Posted by Ivan on June 26, 2010



By
Ivan M. Agung

Pendahuluan

Dalam perkembangan ilmu pengetahuan, hubungan antara satu ilmu bisa saling berkaiatan satu sama lain. Bahkan setiap hubunganya tidak hanya sebatas sebagai pelengkap tetapi juga bisa menjadi suatu yang bersifat inheren. Hal ini disebabkan perkembangan ilmu pengatahuan, informasi dan teknologi menimbulkan permasalahan yang begitu kompleks pada kehidupan manusia. Dalam memahami sesuatu, tidak hanya cukup dengan menggunakan satu pendekatan saja, melainkan dibutuhkan suatu pendekatan yang bersifat holistik, artinya dalam memahami realitas khususnya berkaitan dengan perilaku manusia perlu suatu pendekatan interdisipliner ilmu. Pendekatan ini sangat relevan bila mengkaji suatu masalaah yang begitu kompleks seperti permasalahan hukum.

Menururt Rahardjo (2006) kompleksnya permasalahan hukum tidak hanya semata peramasahan hukum saja melainkan masalah perilaku manusia. Hukum dibuat manusia untuk mengatur perilaku manusia agat tertib dan teratur. Namun realitas menunjukkan seringkali hukum menjadi “mainan” manusia untuk mewujudkan kepentingan. Hukum dijadikan alat untuk mecapai tujuan. Seseorang politikus, akan menggunakan hukum untuk kepentingan politiknya, seorang pengusaha akan menggunakan hukum untuk kepentingan bisnisnya dan sebagainya. Pemaknaan hukum berdasarkan tujuan dan kepentingan masing-masing menjadi suatu dilema tersendiri dalam dunia peradilan. Asas-asas keadilan cenderung diabaikan, digeser oleh asa-asas kepentingan bersifat personal atau kelompok.
Manusia menjadi aktor utama dalam proses penegakan hukum. Masalahnya sekarang ini banyak perilaku-perilaku oknum cenderung menggunakan “kelemahan “ hukum untuk mengambil suatu kesempatan dalam menggapai tujuan. Logikanya hukum menjadi suatu alat untuk memutar balikan fakta bahkan menjadi suatu alat untuk menyerang orang lain. Fenomena telah banyak kita lihat sekarang ini. Berkaitan dengan perilaku manusia salah satu ilmu yang relevan dengan tersebut adalah psikologi. Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku dan proses mental manusia. Dalam perjalanannya psikologi banyak berinteraksi dengan ilmu-ilmu lainnya termasuk hukum.

Integrasi psikologi dan Hukum

Interaksi psikologi dan hukum telah lama terjadi, semenjak tahun 1900–an. Perkembangan signifikan terjadi pada tahun 1920, psikologi dan hukum berusahan mencari bentuk dan definisi peran yang dimainkan dalam disiplin ilmu masing masing. Integrasi psikologi dan hukum berawal dari suatu keyakinan filosofi yang mengatakan bahwa dalam memandang ilmu tidak seharusnya dilihat sebagai suatu entitas terpisah dan berbeda, namun lebih dari merupan saling berhubungan satu sama lainya. Munsterberg (1908), mengatakan bahwa psikologi harus berhubungan dengan ilmu-ilmu lainnya. Psikologi harus berbicara dalam tataran praktis, tidak hanya sekedar konseptual. Oleh karena itu aplikasi psikologi harus menyentuh aspek dasar manusia dengan menggunakan pendekatan berbeda. Salah satu bentuk pendekatannya adalah berorentasi pada problem kehidupan manusia (Pfeifer, 1997). Falsafah tersebut mendorong ilmu psikologi untuk lebih banyak berinteraksi dengan ilmu lain termasuk ilmu hukum, terutama dalam memahami dan menyelesaikan permasalahan perilaku manusia.
Kaspardis (dalam Kohnken, dkk 2003) membagi tiga bentuk pengintegrasian psikologi dalam hukum, yaitu psychology in law, psychology and law, dan psychology of law. Psychology in law adalah aplikasi psikologi yang spesifik dalam bidang hukum, seperti psikologi polisi, psikologi dalam kesaksian saksi mata (Blackburn, 1996). Psychology and law lebih cenderung kepada psycholegal research yang berkaiatan dengan pelaku kriminal, juri (pengambilan keputusan ) dan hakim. Psychology of law mencakup area penelitian seperti, mengapa orang mematuhi atau tidak mematuhi hukum, efek hukum atau aplikasi hukum dalam perilaku manusia.
Proses integrasi psikologi dan hukum bukannya tanpa masalah. Beberapa masalah mendasar dalam proses tersebut masih sering ditemukan, terutama dalam framework dasar dalam meletakkan kaedah-kaedah keilmuan. Kegigihan dalam memegang prinsip dasar tersebut terkadang membuat integrasi psikologi dan hukum cenderung kaku dan terlalu konseptual. Artinya, setiap bidang ilmu berusaha menganggap ilmunya lebih mampu menjelaskan suatu perilaku secara ilmiah. Selain itu, sumber daya manusia cenderung terbatas terutama dalam penguasaan ilmu psikologi dan hukum. Selama ini, kebanyakan para ahli hanya menguasai satu bidang, sedangkan bidang lain tidak dikuasai secara baik sehingga kurang komprehensif dan aplikatif. Misalkan seseorang menguasai ilmu psikologi namun tidak menguasai ilmu hukum secara baik Permasahaan ini muncul karena tidak mudah bagi seseorang untuk belajar secara intens ilmu lain. Untuk menjadi ahli (expert) dalam dua bidang (psikologi dan hukum) membutuhkan tenaga baik pikiran,fisik maupun materi, sehingga banyak orang hanya mengambil jalan pintas dengan mengikuti kuliah singkat mengenai hukum atau pikologi (Costanzo, 2006).
Namun kondisi ini sedikit sudah berubah terutama di Barat. Banyak ahli-ahli telah mampu mengausai dengan baik ilmu psikologi dan hukum, sehingga melahirkan penelitian-peneltian yang berkualitas yang dipublikasikan melalui jurnal-jurnal penelitian, seperti Law and Human Behavior, Applied Social Psychology, law and human behavior,Law and Social Inquiry, Behavioral science, & law, Law And Psychologucal Review, dan Public Policy, Psychology and Law. Di Indonesia perkembangan psikologi hukum masih lambat dan kurang berkembang. Salah satu permasahananya dalah sumber daya manusia yang masih terbatas. Minat mahasiswa dalam mengkaji permasalah hukum dan psikologi dalam satu perspektif masih sedikit, sehingga hasil-hasil penelitian masih terbatas. Kalaupun ada belum sampai tataran aplikatif masih sebatas konseptual.
Beberapa penelitian yang pernah dilakukan tentang psikologi hukum, di antaranya: Rahayu (1996), tentang Peranan etnik dan daya tarik wajah terdakwa terhadap putusan hukuman Rahayu (2001) tentang rekuisitor jaksa penuntut umum dan kepribadian otoritarian hakim dalam proses pemindanaan Indonesia, Agung (2008) tentang pengaruh publikasi pra sidang dan status sosial ekonomi terdakwa terhadap putusan hukuman. Mungkin masih banyak penelitian-penelitian yang telah dilakukan, namun penulis belum mengetahuinya.
Perbedaan sistem hukum antara di Barat (Amerika) dan Indonesia merupakan satu kendala terutama dalam mengadopsi penelitian-penelitian yang berasal dari Barat. Di Amerika menggunakan sistem juri, sedangkan di Indonesia sistem Hakim. Hakim di Amerika berfungsi sebagai pengawas, pembantu dan pengatur jalanya persidangan, sedangkan hakim di Indonesia lebih mirip fungsi juri di Amerika, yaitu sebagai pemutus perkara. Walaupun fungsi hakim di Indonesia lebih kompleks, karena tugas juri dan hakim di Amerika diperankan oleh seorang/majelis hakim di Indonesia. Dikarenakan sistem hukum berbeda, peluang psikologi lebih besar dalam melihat dinamika pengambilan putusan juri, karena juri berasal dari masyarakat biasa yang dipilih. Pengaruh unsur-unsur di luar hukum lebih besar mempengaruhi juri dalam pengambilan putusan. Ini dapat disebabkan oleh kurangnya pemahaman tentang hukum itu sendiri.
Di Indonesia, seorang hakim adalah orang memiliki kemampuan yang telah terstandarisasi dalam bidang hukum, sehingga faktor-faktor di luar hukum akan mudah tereliminasi dalam pengambilan putusan. Walaupun kenyataan menunjukkan bahwa banyak putusan hakim yang cenderung “kontroversial”; jauh dari nilai-nilai keadilan. Tapi Hal dapat menjadi alasan: mengapa penelitian-pnelitian psikologi masih terbatas di bidang hukum.
Walaupun demikian kajian-kajian dalam psikologi hukum sangat menarik untuk dibahas khusunya dalam konteks hukum Indonesia. Pada tahun 2007, para ilmuwan psikologi yang tertarik dalam bidang psikologi hukum membentuk suatu wadah/organisasi yang diberi nama “Asosiasi Psikologi Forensik”, Organisasi tersebut merupakan bagian dari HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia). organisasi Asosiasi Psikologi Forensik telah sempat beberapa kali mengadakan seminar dan publikasi penelitian tentang psikologi hukum.

Peran psikologi dalam Hukum

Di Barat peran ilmu psikologi dalam hukum telah banyak diaplikasikan. Mulai dari tahap pemeriksaan, persidangan, putusan sampai ke tahap pemenjaraan. Misalkan dalam tahap pemeriksaan, bagaimana hasil penelitian psikologi megenai kemampuan meningkatkan daya ingat diterapkan dalam proses pemeriksaan saksi atau korban.
Menurut Costanzo (2006) peran psikologi dalam hukum sanga luas dan beragam. Ia meberikan tiga peran. Pertama, psikolog sebagai penasehat. Para psikologi sering kali digunakan sebagai penasehat hakim atau pengacara dalam proses persidangan. Psikolog diminta memberikan masukan apakah seorang terdakwa atau saksi layak dimintai keterangan dalam proses persidangan. Kedua, psikolog sebagai evaluator. Sebagai seorang ilmuwan, psikolog dituntut mampu melakukan evaluasi terhadap suatu program. Apakah program itu sukses atau sesuai dengan tujuan yang ditetapkan?. Program-program yang berkaitan internvensi psikologois dalam rangka mengurangi perilaku kriminal/ penyimpangan, misalkan program untuk mencegah remaja untuk menggunakan NAPZA. Apakah program tersebut mampu mengurangi tingkat penggunaan NAPZA di kalangan remaja?. Untuk mengetahui hal tersebut, perlu dilakukan evaluasi program. Ketiga, Psikolog sebagai Pembaharu. Psikolog diharapkan lebih memiliki peran penting dalam sistem hukum. Psikolog diharapkan menjadi pembaharu atau reformis dalam sistem hukum. Psikolog diharpkan mampu mengaplikasi ilmu pengetahuannya kedalam tataran aplikatif, sehingga sistem hukum, mulai dari proses penangkapan, persidangan, pembinaan, dan penghukuman berlandaskan kajian-kajian ilmiah (psikologis),.

Di Indonesia peran psikologi dalam hukum terutama pengadilan belum terlihat. Padahal kalau ilmu psikologi benar-benar diaplikasikan akan membawa suatu perubahan khususnya dalam memahami perilaku manusia. Nantinya diharapkan intervensi-intervensi psikologis lebih banyak diaplikasikan selama proses persidangan maupun dalam perubahan perilaku khususnya para narapidana.

Selama ini peran ilmu psikologi terhadap hukum lebih kepada yang bersifat prosedural terutama pada penyeleksian para hakim. Kurangnya peran serta dari para ilmuwan psikologi dalam aspek hukum disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu kurang minat ilmuawan psikologi untuk terleibat secara langsung dalam hukum. Menurut Rahardjo (2006) para ilmuwan psikologi belum mengambil peran utama dalam proses hukum. Selama ini ilmuwan psikologi banyak digunakan sebagai saksi ahli dan untuk pemekrisaan kondisi kejiwaan tersangka/terdakwa.

Memang harus diakui bahwa pertimbangan untuk menentukan bersalah atau tidak bersalahnya seorang terdakwa adalah berdasarkan dua (2) alat bukti yang sah, sesuai dengan KUHP yang berlaku. Sementara aspek psikologis lebih berperan dalam menentukan berapa lama hukuman yang diterima terdakwa. Pada kasus khusus, aspek psikologis sangat menentukan, misalkan seorang terdakwa yang mengalami gangguan jiwa, maka hukuman tidak dapat diberikan, alias bebas.

Daftar Pustaka

Agung, I.M. (2008). Pengaruh publikasi pra persidangan dan status sosial ekonomi terdakwa terhadap putusan hukuman. Tesis. Fak. Psikologi UGM:Ygyakarta.

Costanzo, M. (2006). Aplikasi Psikologi Dalam Sistem Hukum. Penerjemah Helly Prajitno Soetjipto dan Sri Mulyantini Soetjipto. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Rahayu, Y.P. (1996). Peranan etnik dan daya tarik wajah terdakwa terhadap putusan hukuman. Jurnal Pascasarjana UGM (2A) 298-311.

_________ (2001). Rekuisitor jaksa penuntut umum dan kepribadian otoritarian hakim dalam proses pemindanaan Indonesia. Disertasi. Tidak diterbitkan. Program Doktor Psikologi Univesitas Gadjah Mada.

Pfeifer, J E (1997). Social psychologi in the coutroom. in Sadava, S.W dan McCreary (Eds). Applied social psychology. New Jersey:Prentice-Hall

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: