THe NaTuRe

Kesesakan dan Perilaku Agresif di Penjara

Posted by Ivan on May 5, 2010


Agresif dan perilaku kekerasan di penjara merupakan salah satu problem yang penting saat ini. Salah satu penyebabnya adalah kondisi penjara yang sangat jauh dari kondisi ideal. Lihat saja dari kondisi fisik penjara, terkadang ukurannya kecil, orangnya banyak, sehingga menyebabkan para tahanan cenderung merasa sesak akan kondisi tersebut. Kesesakan itu bisa disebabkan oleh terbatasnya ruang personal. Hal ini disebabkan oleh seting penjara yang membatasi perilaku mereka. Ketika seseorang tahanan mempersepsikan kesesakan di penjara, maka hal itu akan berdampak pada psikologiss dan perilakunya. Menurut beberapa penelitian, kesesakan berdampak pada tingkat stress, agresifitas, dan bahkan bunuh diri. Pada penelitian Lawrencen dan Andrews, peneliti ingin melihat faktor menghubungan antara ruang personal (personal space) dengan kesesakan (crowding) dan untuk melihat faktor apa yang menghubungkan atau memperantarai kesesakan dengan agresifitas.

Penelitian dilakukan oleh Lawrencen dan Andrews pada 79 narapidana pria, penjara yang diteliti mempunyai tingkat kemanan yang medium sampai yang tinggi. Respondennya bersifat sukarela, umurnya sekitar 21-35 tahun, dan rata umutnya 25 tahun. Metode yang digunakan adalah kuesioner, yang terdiri dari personal space preferences, Subjective Crowding Questionnaire (SCQ), Stress-Arousal Checklist [SACL – Mackay et al., 1978], General Well-Being Questionnaire [GWBQ – Cox et al., 1983,dan perceptions of Aggression Scale (PAS).
Hasil penelitian ini adalah ada hubungan yang positif antara kesesakan dengan arousal, ruang personal dan stres. Selain itu ada hubungan antara persepsi terhadap kesesakan dengan atribusi terhadap perilaku agresif. Hubungan tersebut diperantarai oleh kondisi arousal. Ketika seseorang mempersepsikan ruang personalnya dilanggar orang lain, maka akan menimbulkan keterbangkitan (arousal) pada diri orang tersebut. Setelah itu orang tersebut berpotensi mengalami kesesakan (crowding) akibat keberadaan orang lain. Selain arousal, stres bisa menjelaskan hubungan antara ruang personal dan kesesakan. Stres dan arousal mempunyai hubungan dengan kesesakan dan persepsi terhadap agresif. Namun sters atau arausal tidak mempunyai hubungan dengan skor individual dalam PAS. Terakhir, ada hubungan antara pengalaman kesesakan dengan persepsi terhadap kejadian yang menimbulkan agresif. Jadi, seseorang yang yang memiliki pengalaman akan kesesakan terhadap situasi tertentu akan cenderung mudah dalam mepersepsikan suatu kejadian dengan perilaku agresif.

keberadaan penjara sendiri jarang diperhatikan mulai dari kondisi fisik, seting ruangan, dan kebersihan. Kondisi yang seperti itu bisa mepengaruhi perilaku para tahanan. Tidak sedikit terjadi tindakan agresif dan kekerasan di penjara, seperti perkelahian, permusuhan dan penganiyaan. Salah satu penyebabnya mengapa sesorang tahanan khsusnya pria lebih agresif? Salah satu penyebabnya adalah masalah kesesakan.. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa orang yang pengalami kesesakan cenderung mempersepsikan perilaku tertentu sebagai perilaku aggresif. Ketika seseorang mengalami kesesakan di dalam penjara, maka ia akan cenderung lebih sensitif baik dalam perilaku maupun dalam mempersepsikan sesuatu. Seseorang cenderung lebih agresif bila bila mengalami kesesakan Kesesakan bisa disebabkan oleh seting fisik dan bisa disebabkan oleh keberadaan orang lain. Selain itu. Kesesakan berkaitan dengan ruang personal. Menurut Bell, dkk (1996) kesesakan merupakan suatu konsep psikologis dari stres dan motivasi. Beberapa ahli mengatakan bahwa antara kesesakan dan kepadatan hampir memiliki pengertian yang sama. Sebenarnya terdapat perbedaan antara kesesakan dan kepadatan. Kesesakan lebih ke konsep psikologis sedangkan kapadatan lebih ke fisik. Walaupun demikian anatara kepadatan dan kesesakan sanagat berhubungan. Hal ini disebabkan kapadatan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan seseorang mengalami kesesakan (crowding).
Perlu kita tahu bahwa kesesakan lebih bersifat subjektif. Seseorang bisa saja mengalami kesesakan ketika berada di rauangan yang luas, dan seseorang bisa juga tidak mengalami kesesakan bila berada pada kondisi padat. Menururt Bell, dkk., (1996) kesesakan dipengaruhi oleh tiga factor. Pertama, perbedaan individu (individual difference). Setiap individu memiliki pemahaman yang berbeda terhadap sesuatu. Demikian juga dengan kesesakan. Seperti diketahui bahwa kesesakan sangat tergantung pada masing-masing individu; kesesakan lebih bersifat subjektif. Pengalaman, jenis kelamin, dan budaya bisa saja mempengaruhi pengalaman akan kesesakan (crowding) Jadi, kesesakan tergantung bagaimana orang itu mempesepsikan, dan bersikap terhadap sesuatu yang terjadi. Kedua, kondisi lingkungan, ini lebih pada kondisi fisik di mana seseorang berada. Di penjara kondisi fisik sangat terbatas, maksudnya ruangannya relatif kecil dan sempit. Kondisi semacam itu lebih mudah menimbulkan kesesakan bagi para tahanan. Ketiga, kondisi sosial. Maksudnya hubungan antara satu dengan orang laian. Di penjara hubungan sosial cenderung dibatasi, selain itu, di penjara tidak memiliki kebebasan dalam meimilih teman yang disukai sehingga akan bisa menimbulkan kesesakan akibat kehadiran orang yang tidak disukai (Bell, dkk., 1996).
Hubungan antara kesesakan dengan agresifitas tidak bersifat langsung, ada factor perantara yang bisa menjelaskan anatara kedua variable tersebut. Menurut hasil penelitian factor perantara itu adalah stres. Stress mempunyai hubungan positif dengan kesesakan. ketika seseorang mengalami kesesakan yang tinggi, maka tigkat stres pun tinggi.Selain itu kesesakan disebabkan juga oleh kejadian yang menimbulkan arousal pada diri seseorang dan ruang personal. Arousal pun mempunyai kaitan dengan stres. Ketika tingkat arausal nya tinggi, maka tingkat stress pun cenderung tinggi. Keterbangkitan (Arousal) bisa berasal dari kondisi di sekitar penjara, misalnya kebisingan, suhu, dan kondisi lainnya. Kesesakan juga berkaitan dengan ruang personal. Ruang personal adalah area individu yang berada di sekitarnya, ketika ruang tersebut dilanggar, maka timbul perasaan yang tidak nyaman (Haim, dkk., 2002). Di penjara, dengan kondisi yang serba terbatas, akan memungkin terjadinya pelanggaran terhadap ruang personal seseorang. Ketika pelanggaran itu terjadi, maka dapat menimbulkan perasaan tidak nyaman, dan akan berlanjut mengalami kesesakan. Bila ini terjadi terus bisa menimbulkan perilaku agresif bagi orang yang dilanggar raung personalnya.
Di penjara, dengan kondisi yang serba terbatas, mulai dari ruangan yang sempit, informasi, dan hiburan terbatas, membuat tingkat stres cenderung tinngi. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya ruang gerak, serta keinginan untuk melakukan apa yang dimau. Menurut teori behaviour constraint, lingkungan bisa membatasi seseorang dalam berperilaku. Bila hal itu terjadi, yang pertama muncul adalah perasaan tidak nyaman, dan perasaan negatif, dan bahkan bisa menimbulkan stress bila berlangsung lama. Jika hal tersebut terus terjadi, biasanya orang akan berusaha untuk mengatasinya dengan cara berusaha mengontrol lingkungan sekitarnya. Ketika usaha terus gagal, maka akan terjadi suatu proses yang dinamakan dengan ketidakberdayaan yang dipelajari (learned helplessness). Maka dari itu perlukan strategi Coping terhadap stres bagi para tahanan. Salah satunya dengan relaksasi, dan pelatiahan kecerdasan emosi. Diharapkan dapat tahan dapat mengontrol emosinya dan mengurangi tindakan kekerasan, permusuhan dan agresif di penjara.

Sumber : Claire Lawrencen and Kathryn Andrews. 2004. The Influence of Perceived Prison Crowding on Male Inmates’ Perception of Aggressive Events. Aggressive Behavior Volume 30, pages 273–283.

Bell,P.A., Greene., T.C., Fisher., J. D., & Baum., A. (1996). Environmental Psychology. Fourth Edition. Fort Worth:Harcourt Brace College Publisher.

8 Responses to “Kesesakan dan Perilaku Agresif di Penjara”

  1. gond said

    Om… Bisa minta jurnalnya yang ini? “Claire Lawrencen and Kathryn Andrews. 2004. The Influence of Perceived Prison Crowding on Male Inmates’ Perception of Aggressive Events. Aggressive Behavior Volume 30, pages 273–283”
    Perlu banget buat skripsi saya om

  2. decee said

    Pak Ivan, saya boleh minta jurnal ini? Claire Lawrencen and Kathryn Andrews. 2004. The Influence of Perceived Prison Crowding on Male Inmates’ Perception of Aggressive Events. Aggressive Behavior Volume 30, pages 273–283. Untuk keperluan skripsi yang sedang saya susun. terimakasih

  3. amanda said

    saya juga minta jurnal ya.. boleh kn ?

  4. Bisma Anggara said

    permisi, boleh minta jurnalnya ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: