THe NaTuRe

Muhammad bin Sirin, ra (wafat tahun 110 H/728 m)

Posted by Ivan on March 27, 2010


Muhammad bin Sirin al-Bashri al Anshari, Abu Bakr merupakan salah satu tabi’in yang terkenal di zamannya. Dia merupakan imam yang terkenal dengan wara’ dan taqwa. Dia lahir dua tahun terakhir pada zaman kholifah Usman bin Affan r.a. Dia tumbuh di keluarga yang sangat terkenal wara’ dan taqwa. Ketika remaja dia berjualan di pasar sebagai pedagang pakaian. Telingannya tuli. Dia belajar fiqih, ilmu faraid, dan meriwayatkan hadist.

Dia membagi kehidupannya menjadi dua bagian: satu bagian untuk beribadah dan satu bagian lagi untuk bekerja. Ketika matahari telah tinggi, dia keluar dari masjid menuju pasar. Apabila matahari telah tenggelam, di berbaris di mihrab rumahnya.
Ibnu Sirin terkenal dengan ibadah, wara’ dan zuhudnya. Bila dia memasuki pasar di siang hari, maka dia membaca takbir, tasbih dan zikir kepada Allah swt. Lalu seseorang bertanya kepadanya”Ya Abu Bakr, di waktu-waktu seperti ini?”dia menjawab”inilah waktu yang manusia lalai, sehingga aku ingin Allah swt disebut pada waktu tersebut.”
Suatu ketika, dia pernah menyebut seseorang untuk memperkenalkannya kepada banyak orang ,”orang hitam…”lalu dia menyesal dan merasa telah berbuat salah, sehingga dia berkata”Astagfirullah, aku takut mengunjingnya,”
….
Sebagai seorang pedagang ibnu Sirin sangat ramah dan baik khususnya kepada pembelinya. Ketika dia menjual, dia berka kepada pembelinya”Apakah kamu ridha?sebanyak tiga kali. Bial pembeli berkata,”ya,” maka Ibnu Sirin mendatangkan saksi-saksi untuk mempersaksikan jual-beli tersebut
Pernah suatu ketika Ibnu sirin membeli minyak seharga 40 ribu secara tempo. Ketika dia membuka salah satu wadah minyak tersebut terdapat tikus mati dan busuk di dalamnya. Dia berkata”semua minyak ini berasal dari tempat pengolahan yang sama dan najis ini tidak hanya pada wadah ini saja. Bila aku mengembalikan kepada penjual karena ada cacat, maka bisa jadi dia menjualnya kepada orang lain.” Lalu dia menumpahkan semua minyak tersebut dan tidak sanggup menutupi semua hutangnya, sehingga dia dipenjara.
….
Dia wafat dan dikembumikan di Basrah pada tahun 110 H.
Dari kisah di atas ada beberapa pelajaran yang dapat daimbil:
1. Sifat wara’, atau kehatian-hatian dalam berperilaku. Hendaknya kita meninggalkan perkara-perkara yang mengandung subhat, apalagi yang sudah jelas salah.
2. Selalu mengingat Allah swt dimana pun kita berada. Dengan mengingat Allah swt, mudah-mudahan kita menjadi orang yang beruntung di dunia dan akhirat,
3. Berperilaku baik terhadap orang lain. Perilaku baik dapat berbentuk kata-kata yang sopan, tidak melukai perasaan orang lain, positif thinking, dan perilaku yang tidak menzhalimi orang lain.
4. Keseimbangan dalam menjalani kehidupan. Artinya, mengutamakan kehidupan akhirat, namun tidak lupa kehidupan dunia.
5. Meciptakan keluarga yang penuh dengan nilai-nilai ketaqwaan, sehingga menghasilkan generasi-generasi seperti Ibnu Sirin.

(Kisah tersebut diringkas dari buku” 100 tokoh zuhud “ karya Muhammad shiddiq al-minsyawi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: