THe NaTuRe

Resensi Buku : ON THE SPOT:Tutur dari Sarang Pelacur

Posted by Ivan on December 31, 2008


ON THE SPOT:Tutur dari Sarang Pelacur
Penulis : Koentjoro, Ph.D
Penerbit : Tinta
Tebal : xxxii + 339 halaman
Tanggal Terbit : Cetakan II, Agustus 2004

Membicarakan masalah pelacuran di Indonesia, maka kita akan menghadapi persoalan yang ruwet dan kompleks. Untuk itu, perlu pemahaman yang utuh tentang masalah pelacuran. Mulai dari faktor-faktornya–baik bersifat personal dan sosio-kultural sampai pada arti dari kata “pelacur” itu sendiri. Istilah untuk merujuk kepada “penjaja daging mentah” sangatlah beragam dari sekian banyak istilah lainnya, sebut saja pelacur, lonte, ayam, pekerja seks komersial (PSK), wanita tuna susila (WTS), whore, protistute, dan bicth. Pada pembahasan buku ini penulis lebih cenderung menggunakan istilah ‘pelacur’ dari pada yang lainnya. Salah satu alasannya, istilah pelacur lebih bersifat universal tidak bias gender. Walaupun kebanyakan ahli sepakat bahwa istilah pelacur lebih identik dengan kaum hawa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata “pelacur” berasal dari kata dasar “lacur” yang berarti malang, celaka, gagal, sial atau tidak jadi. Jadi pelacur adalah orang yang berbuat lacur atau otau orang menjual diri sebagai pelacur. Sedangkan pemerintah lebih sering menggunakan untuk istilah pelacur dengan nama pekerja seks komersial (PSK) atau wanita tuna susila (WTS). Ini bisa jadi agar lebih “menghaluskan” makna dalam menyebutkan istilah pelacur.

Selama ini pemerintah sangat melarang segala pelacuran yang terjadi di suatu dareah. Namun faktanya banyak sekali tempat “bisnis lendir” ini yang masih berdiri, seolah tidak menghiraukan larangan pemerintah. Pemerintah dan masyarakat pada umumnya beranggapan bahwa pelacur adalah orang yang hina, penuh dosa, sesuatu yang harus dijauhi, terkutuk dan sebagainya. Pandangan-pandangan seperti inilah yang dapat menjadi penghambat dalam menyelesaikan masalah pelacuran. Selama ini pemerintah berada pada posisi yang dilematis. Bagaimana tidak, kalau pelacuran ditumpas habis jelas tidak mungkin karena pelacuran sudah ada dari zaman bahula– dari zaman Majapahit samapai sekarang. Dilain pihak kalau bisnis pelacuran ini disetujui dengan cara mendirikan kompleks pelacuran yang disebut “resosialisasi” (resos) berarti melegalkan prostitusi yang jelas melanggar hukum. Kondisi inilah yang menjadikan pemerintah terkadang setengah hati dalam menyelesaikan masalah ini.
Buku ini ditulis oleh Koentjoro. Buku ini merupakan riset beliau untuk menempuh program Doctor of Philosophy (Ph.D) dari school of social Work and Social Policy, La Trobe University, Australia. Koentjoro sudah lama mengenal dunia pelacuran. Hal ini bermula dari sejak ia duduk di bangku SMA, ia ditugaskan untuk melakukan riset sederhana tentang pelacuran di Yogyakarta. Dari situlah ia mulai tertarik melakukan riset lebih mendalam tentang pelacuran. Apalagi setelah ia masuk Fakultas Psikologi UGM, ia langsung menjatuhkan pilihan pada psikologi sosial karena sangat mendukung minatnya dalam membahas permasalahan sosial khusunya pelacuran. “Buku ini merupakan sebuah riset yang kompleks dan komprehensif mengenai plecuran yang terjadi di Indonesia…”begitulah sebuah apresiasi dalam suatu pengantar dalam buku ini oleh Dr. Marta Fulop, Ph.D. Dalam melakukan riset ini, penulis menggunakan metode tringulasi artinya pendekatan yang digunakan tidak hanya kuantitatif tetapi juga kualitatif serta observasi partisipan dan diskusi kelompok kecil dengan para pelacur. Ini dilakukan agar data yang diperoleh lebih mendalam dan komprehensif.
Selama ini pemerintah menganggap bahwa faktor dominan dalam menentukan seorang menjadi pelacur adalah kemiskinan. Namun, Koentjoro mencoba melihat dari sisi lain bahwa faktor penentu yang menjadi seorang pelacur tidak hanya kemiskinan melainkan sosialisasi dan modeling. Selain itu ia juga berusa mengidentifikasi tentang asal daerah pelacuran yang terjadi di kota-kota besar di Indonesia. Ia berkesimpulan bahwa para pelacur itu berasal dari daerah tertentu. Lihat saja pada kasus Batam. Ketika Koentjoro meneliti tentang pelacuran di Batam, ia menemukan bahwa kebanyakan pelacur berasal dari daerah tertentu. Timbul pertanyaan : apakah suatu daerah telah menjadikan bisnis pelacuran sebagai ”mata pencaharian”.?
Daerah yang telah di cap sebagai ”penghasil pelacuran” memiliki budaya yang berbeda. Pada umumnya masyarakat bersikap permisif terhada pelacuran, kontrol sosial yang lemah, norma-norma sudah diabaikan serta peran agama tidak lagi signifikan terhadap kehidupan. Hal semacam inilah menyuburkan pelacuran di daerah tersebut.
Pada riset ini Koentjoro menetapkan lokasi pada tiga daerah yaitu, Jawa barat (Mojokulon), Jawa tengah (Mojotengah), dan Jawa timur (Mojowetan). Namun pada akhir penelitiannya, ia hanya memakai daerah Mojokulon dan Mojotengah sedangkan Mojowetan datanya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Pada suatu desa di daerah Mojongkulon, koentjoro menyebutnya sebagai daerah “penghasil” pelacur, walaupun orang daerah tersebut enggan mengakui bahwa daerah sebagai pengahasil pelacur. Ia melihat ada perberdaan perepsi, pandangan serta pola interaksi dengan daerah yang bukan penghasil pelacur. salah satunya saja banyak orang tua yang menganggap bahwa pendidikan itu tidak perlu, hanya menghabis-habiskan uang. Masyarakat di sana melihat banyak orang sekolah di luar daerahnya—pulang-pulang hanya menjadi pangangguran. Terjadi sebuah pemikiran yang serba instan terutama dalam memaknai kebahagian, keberhasilan dan status sosial. Materi yang berelimpah menjadi ukuran atau standar dalam mencapai kebahagian, keberhasilan dan status sosial. Masyarakat umumnya melihat status seseorang tidaklah ditentukan oleh pendidikannya melainkan oleh kekayaannya. Ini lah yang mempengaruhi pandangan orangtua terhadap anaknya terutama wanita atau suami terhadap istri– yang dianggap sebuah “aset” yang dapat menghasilkan uang. Faktor semacam inilah yang mendorong timbulnya pelacuran di daerah tersebut.
Selain itu, aspirasi materi orang tua dan suami terkadang tinggi melebih kemampuanya dalam meraih materi tersebut. Aspirasi materi ini dipengaruhi oleh kebutuhan untuk berkuasa (power). Maksudnya, keinginan untuk meraih segala seuatu yang berkaitan dengan materi. Keinginan memiliki harta yang banyak di identifikasikan dengan kebutuhan untuk berkuasa. Dengan memiliki materi yang banyak ia akan mendapat status sosial yang tinggi di lingkungannya.
Pada daerah Mojokulon kebanyakan pelacur berstatus janda. Dengan status itu ia lebih bebas bergerak menentukan pilihannya. Ketika dorongan ekonomi dan status sosial menghimpit seorang janda. Maka, jalan yang pintas untuk mengatasi semua itu adalah terjun ke dunia pelacuran. Sedangkan pada dareah Mojotengah, kebanyakan pelacur memiliki suami yang sah, namun kerena kebutuhan hidup. Mereka ”terpaksa” atau ”dipaksa” oleh suami dan bujukan para penghasut untuk terjun ke dunia pelacuran. Bahkan tak jarang terjadi persengkokolan suami dengan mucikari untuk menjebak istrinya agar terju nilai ke dunia pelacuran.
Hukum ekonomi tampaknya berlaku pada bisnis pelacuran. Pelacuran ada berkat adanya permintaan. Ini telah menjadi sejenis ”lingkaran setan” yang tiada putus-putusnya. Ketika seorang wanita memilih pertama kali terjun ke dunia pelacuran maka pilihannya bukanlah pilihan mutlak dari lubuk hati yang paling dalam melainkan berkat dorongan terutama keluarga atau suami serta rayuan para perantara (ivesgator) yang mencoba memberi kenikmatan sementara lewat materi. Ketika sudah terjun ke dunia pelacuran maka ia telah terjebak dalam ”hawa nafsunya” sendiri serta keluarganya akan kebendaan dan status sosial. Memang tidak dipungkiri bahwa ada juga yang terjun ke dunai pelacuran untuk hanya menutup kebutuhan keluarga serta membantu keluarga lainya. Intinya ia menjadi seorang yang diandalkan dalam mencari penghasilan yang layak untuk keluarganya. Ini bisa di sadari bahwa kebanyakan di sana suami tidak dapat mencukupi kebutuhan akan kehidupan yang layak serta memuaskan aspirasi material keluarganya. alasan inilah yang menjadikan istri-istri “diizinkan” oleh suaminya untuk menyelami dunia pelacuran.
Buku ini disajikan begitu menarik, penulis mencoba memberikan pembahasan yang utuh dan lengkap tentang dunia pelacuran dibeberapa daerah di Indonesia, Baik dari segi personal, lingkungan sampai sosio-kultural. Buku ini memberikan data-data yang lengkap dan komprehensif.”ia membiarkan data berbicara untuk data itu sendiri dan tidak memaksa untuk dicocok-cocokkan dengan perspektif tertentu”, ujar Margarita Frederico, sebagai supervisor buku ini. Namun hasil dari riset ini tidak dapat dipakai sebagai ukuran yang mutlak dalam menggenaralisasikan terhadap permasalahan pelacuran di indonesia, buku ini hanya menjadi pegangan atau acuan bagi pemerintah sebagai pengambil kebijakan, masyarakat, pekerja sosial, psikolog dalam mengintervensi permasalahan pelacuran di Indonesia.

6 Responses to “Resensi Buku : ON THE SPOT:Tutur dari Sarang Pelacur”

  1. nana said

    buku ini bisa di dapet dimana yak??? saya nyari kok gak ketemu2?????

    • vano2000 said

      kalo tidak salah, saya beli buku ini di Gramedia tahun 2004, tapi nggak tahu sekarang masih ada apa nggak. kemungkinan buku ini masi ada, coba dicek di toko-toko buku di jogja, karena penulisnya adalah Dosen Psikologi UGM.

  2. may said

    aq nyari buku ini kemana2 tp gak dapet2…. butuh bgt niy bwt referensi bkn skripsi…

    • vano2000 said

      buku ini tahun 2004 saya beli di garmedia, tapi sekarang saya tidak tahu: apakah masih tersedia di toko atau tidak. coba cek di toko buku di Yogyakarta, karena penulisanya adalah guru besar psikologi UGM (Prof. Koentjoro, Ph.D).

  3. irwan kusumah said

    @vano2000 mas saya nyari buku ini di hampir semua toko buku di kota bandung ga ada loh mas.
    klo boleh saya mau beli buku yang mas vano punya. buat referensi skripsi..
    ini no saya 08562037744

    • Ivan said

      iya, buku sudah lama saya beli sekitar tahun 2002. gak tahu sekarang masih ada apa gak. coba cek di yogyakarta mungkin masih ada. demikian thanks.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: