THe NaTuRe

Pemimpin dan Perubahan

Posted by Ivan on December 21, 2008


Krisis multidimensi masih melanda negeri Indonesia, mulai dari ekonomi, politik, keamanan, pendidikan, dan budaya Bahkan akhir-akhir ini, bencana bertubi-tubi melanda negeri khatulistiwa ini. ” negeri 1001 bencana” begitulah istilah yang dapat menggambarkan kondisi bangsa Indonesia. Menurut pakar Barat ada dua dosa kembar (twins sins) dalam otonomi daerah dan desentralisasi di Indonesia (Budiharjo, 2006). Pertama, overutilization of natural resources, yakni pengurasan sumber daya alam secara berlebihan.

Kita lihat sekarang, banyak hutan yang ditebang dan dialihkan fungsi, pengeboran minyak secara besar-besaran, penggalian tambang emas dan batubara tanpa melihat dampak lingkungannya. Akibatnya, bisa kita lihat kebakaran hutan yang hampir terjadi tiap tahun, banjir, kekeringan, kasus Buyat, dan lumpur di Sidoarjo. Kasus tersebut dapat dikatagorikan sebagi innatural disaster, karena perilaku manusia sebagai penyebab utama. Kecerobohan, keserakahan, dan ketidakpedulian merupakan perilaku yang mendorong manusia untuk melakukan eksploitasi alam secara berlebihan
Kedua, underutilization of human resaources, yaitu tidak menempatkan orang-orang terbaik pada posisinya. Banyak orang yang memegang kekuasaan atau pemimpin tidak memilki kualitas yang dibutuhkan. Mereka dipilih bukan karena kemampuannya melainkan lebih pada kekuatan politik, uang dan kekuasaan. Padahal lahirnya pemimpin yang berkualitas, baik secara intelektual, moral dan spritual perlu suatu tahapan panjang, tidak bersifat instan. Selama ini konsep lahirnya seorang pemimpin dalam tataran negara masih jauh dari ideal, bahkan bisa dikatakan gagal. Partai politik, yang selama ini berperan sebagai jembatan seorang untuk menjadi pemimpin telah gagal (failed) melahirkan seorang pemimpin yang memiliki integritas dan tanggung jawab sosial terhadap masyarakat. Pemimpin saat ini bukan lagi merupakan representatif dari kepentingan rakyat, tapi lebih kepada representatif kepentingan golongan tertentu. Banyak kebijakan-kebijakan lebih mengaspirasikan kekuatan-kekauatan pemilik modal, yang cenderung tidak memihak untuk kesejahteraan rakyat Hal ini diperparah lagi dengan anomali perilaku politik pemimpin bangsa ini yang sibuk kepada kepentingan individu atau kelompok.
Dalam mengusung suatu perubahan besar, kita tidak bisa mengandalkan seorang pemimpin. Seorang pemimpin kuat tidak akan berarti apa-apa bila tidak didukung oleh rakyat. Oleh karena itu perubahan harus dilakukan secara bersama mulai dari pemimpin sampai masyarakat. Semangat menuju perubahan harus mampu dihembuskan oleh seorang pemimpin. Semangat untuk bersatu (spririt of unite) dalam masyarakat perlu disentuh melalui kebijakan-kebijakan yang pro rakyat. Untuk itu perlunya Kepekaan pemimpin dalam membaca realitas yang terjadi di masyarakat. Kebijakan konkrit lebih diutamakan dari pada retorika-retorika politik—yang hanya menyakiti hati rakyat. Namun tidak semua pemimpin seperti yang diharapkan, karena seorang pemimpin belum tentu seseorang yang memiliki kepemimpinan. Banyak pemimpin bangsa ini tidak mencerminkan seorang pemimpin. Mereka jauh dari niali-nilai dasar kepemimpin, seperti, amanah, tanggung jawab, jujur, dan berani. Seorang pemimpin tidak cukup mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi orang lain, tapi bagaiman ia mampu menanamkan sifat-sifat kepemimpinan untuk dirinya dan bawahannya. Bila ini tercapai, maka tujuan atau cita-cita dapat diraih dengan mudah.
Sebenarnya dalam pandangan masyarakat, konsep pemimpin yang ideal sangat sederhana, yaitu pemimpin yang mampu membawa kesejahteraan dan mampu mensinergi segala potensi yang dimiliki untuk kepentingn rakyat. Kemampuan pemimpin untuk mekihat jauh ke depan mutlak diperlukan guna melahirkan keputusan yang berpihak pada rakyat. Namun, realitas menunjukan kebalikanya. Betapa banyak sumber daya alam, yang semestinya digunakan untuk kepentingan rakyat luas, malah dikuasai oleh segelintir orang. Ketidakmampuan pemimpin kita dalam bersikap tegas dan pro kepentingan rakyat membuat negeri ini seringkali ”dimanfaatkan” oleh kekuatan globalisasi, kapitalisme dan pasar bebas. Gaya kepemimpinan pro aktif (Pro active leadership) yang dilakukan oleh Moralez, presiden Bolivia dalam membuat kebijakan, tampaknya patut ditiru. Ketika dia baru dilantik menjadi presiden, langkah pertama yang diambil adalah merasionalisasi perusahan asing yang menguasai kepentingan publik menjadi milik negara. Pada awalnya banyak investor menolak, namun dengan sikap kepemimpinan yang berani dan tegas, akhirnya para investor menuruti ketentuan tersebut. Apakah pemimpin Indonesia berani seperti ini?
Indonesia adalah Indonesia, sebuah negara dengan keberagaman etnik, bahasa dan budaya. Terlalu banyak masalah yang diwariskan, membuat pemimpin kita terlalu ”gamang” untuk mengambil kebijakan yang berani, tegas, dan radikal untuk kepentingan rakyat. Prinsip bahwa perubahan itu sakit dan tidak meng-enakan menjadi bayang-bayang ketakukan dalam melangkah ke depan. Terlepas dari itu semua, masyarakat tetap membutuhkan seorang pemimpin bangsa yang mampu menstranformasikan kehidupan ke arah lebih baik. Harapan itu akan terwujud bila semua elemen masyarakat menjadi seorang ”pemimpin” dengan nilai-nilai kepemimpinan, berdasarkan konteks dan kemampuan. Dengan hal tersebut nilai-nilai seperti toleransi, tanggung jawab, kepercayaan, kepedulian sosial menjadi landasan dalam berperilaku, sehingga semangat perubahan dalam tatanan individu mampu menjadi katalisator perubahan menuju peradaban bangsa yang lebih baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: