THe NaTuRe

Peran Keluarga Dalam Perkembangan Moral Remaja

Posted by Ivan on March 27, 2010



By
Ivan Muhammad Agung
Abstrak
Masa remaja merupakan masa yang penting dalam perkembangan individu. Pada masa tersebut terjadi perubahan-perubahan pada fisik, interaksi sosial, kognitif, emosi, dan moral. Perkembangan moral merupakan salah satu yang penting dalam kaitanya dengan remaja. Perkembangan moral remaja berkaitan dengan bagimana proses perkembangan remaja dalam memahami nilai-nilai, aturan, norma yang berlaku di masyarakat Perkembangan moral remaja dipengaruhi oleh dua hal, yaitu, kemampuan berpikir dan interaksi sosial. Peran keluarga dalam proses pembentukan moral remaja dapat dilihat dari tiga elemen, yaitu kedekatan keluarga (cohesion familiy), adaptasi, dan komunikasi.

Keywords: perkembangan moral, keluarga, remaja

Pengantar
Remaja adalah masa-masa transisi dari masa anak-anak ke masa dewasa awal. Pada masa itu banyak perubahan yang terjadi pada diri remaja, mulai dari perubahan fisik, psikologis, dan perkembangan sosial (Schuster, 1980),. Hal ini menjadi masa remaja sering disebut masa “kritis”. Artinya masa remaja menjadi masa yang labil, penuh gejolak; dan cenderung mudah terbawa arus. Selain itu, remaja mulai mempertanyakan dirinya sendiri. Siapakah saya?pertanyaan seperti sering muncul karena remaja sedang mengalami masa transisi dari anak-anak ke dewasa awal. Perubahan-perubahan yang terjadi pada remaja menuntut mereka untuk dapat menyesuaikan diri dengan peran baru yang mereka sandang. Bila remaja tidak dapat meyesuaikan, maka ia akan sulit menemukan identitas dirinya. Seperti teori Erikson (dalam Hurlock, 1980), ia mengatakan bahwa masa remaja merupakan masa pencarian identitas diri, bila remaja gagal, maka ia akan mengalami kekaburan identitas. Lalu bagaimana proses pencarian identitas remaja?salah satunya dengan mulai berinteraksi dengan kelompok sebaya (peer group).
Kelompok sebaya (peer group) sangatlah penting bagi proses perkembangan remaja. Menurut penelitian, remaja yang bergabung dengan kelompok informal maksudnya di luar sekolah (tim sepakbola, band, pramuka dan sebagainya) akan memunculkan rasa keinginan untuk memiliki dan status social (Austin, 1980). Bergabungnya remaja pada suatu kelompok akan membuat remaja lebih banyak belajar dari orang lain, bagaiamana bertingkahlaku, bekerjasama dengan orang lain dan memahami antar sesama. Itu beberapa keuntungan didapati remaja ketika bergabung pada suatu kelompok. Namun ada bebarapa dampak negatifnya. Salah satunya adalah nilai-nilai negatif yang dianut kelompok. Ketika remaja bergabung dengan suatu kelompok, maka konsekuensinya remaja harus mengikuti apa yang disepakati kelompoknya. Hal ini dilakukan karena berkaitan dengan penerimaan sosial (social acceptance) pada kelompok. Dengan demikian remaja lebih suka ‘mengadopsi’ nilai-nilai dari peer group daripada orangtua. Kadang-kadang nilai-nilai yang dianut remaja dari kelompoknya bertentangan dengan nilai yang ada di keluarga. Bahkan bisa terjadi konflik antara remaja dengan orangtua. Benar menurut kelompoknya belum tentu benar menurut masyarakat atau keluarga. Di sinilah peran keluarga menjadi penting. Bagaimana orangtua dapat menanamkan nilai-nilai yang baik pada remaja. Selain itu orangtua harus menjalin komunikasi yang positif. Dengan itu, diharapkan nilai-nilai moral yang diajarkan orangtua kepada remaja dapat dipahami dan diterima. Lalu timbul pertanyaan, bagaimana peran keluarga dalam perkembangan moral remaja?keluarga yang seperti apa yang sukses dalam menyampaikan nilai-nilai moral yang baik?.
Hasil Penelitian (jurnal)
Pada pembahasan kali ini, penulis mengambil jurnal yang berjudul” Socialization Proceses to Adolescent Moral Though. Jurnal ini membahas bagaimana peran keluarga dalam pembentukan moral remaja. Salah satu alasan mengapa penulis tertarik mengambil topik tentang moral dan keluarga, karena belum banyak yang membahas mengenai peran keluarga dalam pembentukan moral pada remaja. Selama ini perkembangan moral selalu diidentik dengan perkembangan kognitif, padahal perkembangan morak tidak hanya dipengaruhi oleh perkembangan kognitif saja melainkan peran interaksi sosial. Salah satu interaksi sosialnya adalah keluarga. Hal ini disebabkan keluarga tempat pertama kali anak berinteraksi dengan orang dalam hal ini keluarganya.
Remaja dan Perkembangan Moral
Berbicara mengenai moral berarti berbicara benar dan salah, dosa dan tidak dosa dan larangan dan tindakan. Menurut Suseno (dalam Multahada, 2005) moral adalah hal yang selalu mengacu pada baik buruknya manusia. sebagai manusia, sehingga bidang moral adalah bidang kehidupan manusia dilihat dari segi kebaikannya sebagai manusia. Moral adalah suatu nilai-nilai yang yang berlaku di suatu wilayah tertentu Jadi pengertian moral dapat diartikan sebagai suatu adat istiadat, kebiasaan, peraturan atau tata cara kehidupan dalam suatu masyarakat yang berhubungan dengan baik dan buruknya tingkah laku manusia. ( Multahada, 2005).
Nilai moral yang berkembang di suatu masyarakat tentulah berbeda-beda, susuai dengan yang telah disepakati bersama. Sesuai dengan apa yang dikatakan Hogan (dalam Haste dan Locke, 1983), ia mencoba medefinisikan nilai moral dari perspektif sosial. Ia mengatakan bahwa moral bersifat relatif Artinya, nilai moral adalah suatu nilai yang ditetapkan secara kultural maupun subkultural secara tidak pasti.. Dengan demikian setiap orang mempunyai “kebebasan” dalam memahami dan menginternalisasi nilai moral yang berkembang pada suatu masyarakat. Nilai moral yang berkembang di masyarakat dapat saja berubah karena pengaruh budaya dari luar, teknologi maupun ideologi. Hal semacam inilah yang menjadikan seorang reamaja menyimpang dari nilai-nilai moral yang ada. Lalu apa kaitan antara moral dengan remaja?bagaimana moral berkembang pada remaja?
Perkembanngan moral sebenarnya telah berlangsung pada masa kanak-kanak. Namun pada saat remaja akan mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan kemampuan kognitif dan minat sosialnya. Menurut Damon (1984) ada membedakan antara remaja dengan anak kecil, yaitu (1) remaja lebih sensitif terhadap pandangan dan harapan masyarakat. Remaja sering mementingkan ‘reputasi’ dirinya. Selain itu remaja lebih dituntut untuk mewujudkan harapan dan tanggungjawab dari lingkungan. Hal tersebut digunakan untuk mewujudkan reputasinya. Yang ujung ada keinginan dalam remaja untuk dapat diterima dan dihargai secara sosial dalam suatu lingkungan. (2), ideologi. Remaja mulai senang dengan hal-hal yang bersifat filosofi, ideology, aliran-aliran. Mereka terkadang mulai mengadopsi hal tersebut sebagai pandangan, pendapat dan kepercayaan.
Ada dua hal yang bisa mempengaruhi perkembangan moral remaja, yaitu perkembangan kognitif dan interaksi sosial. Pertama, adalah kemampuan berpikirnya. Menurut Kohlberg masa remaja masuk pada tahap pascakonvensional. Pada masa ini remaja sudah mampu berpikir secara induksi-deduksi, sudah mampu menghadapi beberapa masalah. Gallagher ( dalam Craig,1980) mengatakan remaja sudah mampu mengkombinasikan dan memecari solusi permasalahan. Perkembangan kognitif pada remaja meliputi kemampuan berpikir secara rasional dan penalaran secara efektif, sehingga remaja secara relatif telah mampu membuat keputusan sendiri. Kemampuan operasional kognitif serta keterampilan perspektif abstrak akan mempengaruhi pencapaian prinsip moralitas (Helwig dalam multahada, 2005).
Kedua, interaksi sosial. Kematangan moral tidak hanya ditentukan oleh kematangan berpikir saja tetapi perlu didukung oleh kematangan lainnya, salah satunya kematangan sosial. Pada saat remaja, keinginan untuk berinteraksi dengan teman-teman sudah mulai tumbuh. Orentasinya tidak lagi ke dalam (keluarga ) tetapi lebih ke luar keluarga. Dengan berinteraksi dengan teman-teman sebaya, orang dewasa dan masyarakat, maka remaja mulai belajar banyak hal. Seperti perilaku tolong-menolong, bekerjasama, empati, saling memahami dan sebagainya. Menurut teori social learning (dalam Atkinson,1999) seseorang dapat belajar dari cara mengamati perilaku orang lain. Remaja mulai membandingkan dirinya dengan orang lain baik dalam berpikir, bersikap, dan berperilaku. Setelah itu remaja baru bisa memutuskan apa yang terbaik untuk dirinya.
Peran keluarga dan pembentukan moral
Keluarga merupakan satuan terkecil dari sistem social yang ada di masyarakat. Peran keluarga sangat penting bagi perkembangan remaja. Menurut penelitian Mandara dan Murray (2000) keluarga yang berperan baik dapat meningkatkan harga diri (self-esteem) pada remaja. Tidak hanya hanya itu, keluarga juga berperan dalam hal pendidikan, khusus pendidikan pra sekolah. Pada saat masih kanak-kanak keluarga yang mengajarkan nilai-nilai moral, agama, dan bagaimana seharusnya berperilaku. Menurut Clatworthy (1980) peran keluarga sangat banyak, yaitu sosialisasi pendidikan, reproduksi, perlindungan dan keselamatan, kontrol sosial, kebutuhan psikologis, agama dan rekreasi. White (2000) dalam penelitiannya membuktikan bahwa keluarga mempnyai peran penting dalam pembentukan moral remaja.
Studi yang dilakukan White tentang peran keluarga dalam pembentukan berpikir moral (moral thaought) di lakukan di Australia. Subjek penelitian berjumlah 271 remaja (14-19 tahun) beserta orangtuanya. Pada penelitian ini, White berusaha menghubungkan proses dalam keluarga dengan berpikir moral (moral thaough)t. Dia menggunakan pendekatan sistem-keluarga pada pembentukan berpikir moral remaja. Moral remaja tidak hanya bersumber dari kelompoknya saja, tetapi peran kelurga terutama orangtua sangat penting. Kemampuan keluarga dalam proses pembentukan moral remaja dapat dilihat dari tiga elemen, yaitu kedekatan keluarga (cohesion familiy), adaptasi, dan komunikasi.
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah ada hubungan signifikan antara proses sosialisasi dalam kelurga dengan berpikir moral (moral thaought) pada remaja. Ada tiga elemen yang berperan dalam proses perkembangan berpikir moral. Pertama , remaja yang mempunyai hubungan baik atau kedekatan dengan keluarga, akan mempunyai berpikir moral yang baik daripada remaja yang kurang mampu berhubungan baik dengan keluarga. Kedekatan keluarga mempunyai hubungan dengan penilaian moral. Remaja yang menerima kehangatan keluarga cenderung akan mudah dalam menerima nlai-nilai moral dari kelurganya. Kedekatan keluarga dilihat dari keterikatan yang terjadi antar setiap anggota keluarga. Ukurannya dilihat dari keterikatan emosional, batasan, waktu, teman, pengambilan keputusan, minat, dan rekreasi.
Kedua, adalah adaptasi. Remaja yang mengalami proses adapatasi yang baik dalam keluarga akan mempunyai pengaruh signifikan pada perkembangan moral daripada remaja yang tidak mampu berdaptasi di keluarga. Hasil ini membuktikan bahwa proses adaptasi remaja di keluarga mempunyai hubungan dengan berpikir moral (moral thaought ) remaja. Menurut Olson (dalam White, 2000) adaptasi keluarga adalah kemampuan sistem keluarga untuk mengubah struktur kekuasaan ( asertivitas, kontrol, dan disiplin), gaya negosiasi, hubungan dengan peraturan dalam merespon situasi dan perkembangan stress.
Terakhir adalah komunikasi. Remaja yang mempunyai komunikasi positif dengan keluarga terutama orangtua, akan mempunyai peran yang besar dalam pembentukan berpikir moral (moral thaought) daripada remaja yang menpunyai komunikasi negatif. Kemampuan positif dalam keluarga dapat dilihat dari kemampuan remaja untuk berkomunikasi dengan orangtuanya secara baik dan demokratis sehingga nilai-nilai moral dari orangtua dapat diinternalisasi secara baik oleh remaja. Komunikasi yang baik akan menciptakan hubungan yang baik pula, dan juga menciptakan saling memahami akan makna atau arti dari pesan yang disampaikan (Sarwono, 1999). Remaja yang mengalami komunikasi negatif cenderung tidak ingin mengambil nilai-nilai moral dari keluarga, tetapi lebih mengambil nilai-nilai moral dari luar lingkungan keluarga.
Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa peran kelaurga dalam mensosialisakan nilai-nilai moral kepada remaja sangat penting. Kemampuan remaja dan orangtua dalam hal adaptasi, kedekatan dan komunikasi sangat dibutuhkan dalam proses penyampaian nilai-nilai moral, sehingga nilai-nilai moral itu akan mempengaruhi cara berpikir moral remaja. Lalu nilai-nilai apa yang di ajarkan orangtua kepada remaja?salah satu sumber moral yang sangat banyak dipakai adalah agama. Menurut Hurlock (1999) peran agama sangat penting dalam pembentukan moral remaja. Dalam agama diajarkan bagaimana seseorang harus berpiikir, bersikap dan berperilaku dengan orang lain. Seseorang yang memiliki keyakinan kuat terhadap agamanya akan berusaha sekuat mungkin untuk tidak melanggar dari ajaran agamanya. Dalam proses memberikan nilai-nilai moral yang berasal dari agama, peran keluarga sangat penting. keluarga harus sedini mungkin mengenalkan nilai-nilai moral yang dari agamas, ehingga nanti setelah remaja atau dewasa sudah terbiasakan dengan nilai-nilai moral yang baik.
Komentar terhadap temuan jurnal
Hasi penelitian pada jurnal ini menunjukan bahwa sosialisasi dalam keluarga memiliki peran penting dalam pembentukan moral pada remaja. Sosialisasi dalam kelaurga dapat dilihat dari kedekatan, adaptasi, dan komunikasi remaja dalam keluarganya. Semakin baik kedekatan, komunikasi, dan adaptasi remaja dalam kelurga, maka nila-nilai moral yang berasal dari dalam keluarga lebih dapat terinternalisasikan secara baik kepada remaja.
Menururt penulis, ada beberapa kelemahan yang terdapat dalam jurnal ini, yaitu peneliti tidak menyebut secara rinci perkembangan moral remaja berdasarkan umur. Dalam peneltian tersebut, peneliti hanya menggambarkan secara umum perkembangan moral remaja. Peneliti hanya fokus pada hubungan antara proses sosialisasi dalam keluarga dengan berpikir moral. Padahal perbedaan umur akan mempengaruhi perkembangan kognitif seseorang—yang nantinya berakibat pada perbedaan perkembangan moral. Selain itu, peneliti tidak mendekripsikan secara jelas dan rinci mengenai kondisi keluarga subjek penelitian. Apakah keluarga masih utuh, atau keluarganya singel parents. Kondisis ini menyebabkan kita tidak tahu secara jelas dan pasti apakah perkembangan moral dipengaruhi oleh sosialisai antara orangtua-remaja dalam keluraga atau dipengaruhi oleh keutuhan keluarga tersebut.

Kesimpulan

Perkembangan moral pada masa remaja tidak hanya ditentukan oleh kematangan berpikir (kognitif), tetapi juga ditentukan oleh kematangan social. Maksudnya kemampuan berinteraksi dengan lingkungan sosial. Keluarga merupakan salah satu lingkungan social yang mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan moral pada remaja. Keluarga-lah yang pertama kali memperkenalkan nilai-nilai—bagaimana seseorang harus berperilaku terhadap orang lain. Salah satu sumber moral yang penting adalah agama. Agama menjadi pedoman bagi orangtua untuk mengajarkan nilai-nilai baik terhadap anaknya. Sekarang tergantung keluarga, bagaimana keluarga dapat mensosialisasikan nilai-nilai moral secara baik kepada anaknya, sehingga anak dapat menerima dan menginternalisasikan pada dirinya.

Referensi

Atkinson,R.L., Atkinson,R.C., & Hilgar, E.R.. 1999. Pengantar Psikologi: edisi ke 8-jilid 2:Alih bahasa: Nurdjamah. Jakarta:Erlangga.

Craig, G.S. 1980. Human Development. Second Edition. New York: Prentice-Hall. Inc.

Clatworthy, N.M. 1980. Initiating a Family Unit. In Schuster dan Asbhurn. The Procces of Human Development: Holistic Approach. Bostong:Little,Brown & Company.

Damon,W. 1984. Self-Understanding Moral Development from Childhood to Adolescent. , In Kurtinez & Gerwitz. Morality, Moral Behavior dan Moral Development. Kanada: John Wiley & Sons.Inc

Hurlock, E. 1980. E. Psikologi Perkembangan:suatu pendekatan sepanjang Masa: Alih Bahasa: Istiwidayanti dan Soedjarwo. Jakarta: Erlangga.

Haste & Locke.1983. Morality in The Making Thought, Action, and Social Contex. New York: Jhon Wiley & Sons.Ltd.

Mandara, J. dan Murray, C.B.2000. Effect of Parental Mariatal Status, Income, and Familiy Functioning on African Amirican Adolescent Self-Esteem. Journal of Familiy Psychology, Vol.14, No.3.475-490.

Liebert,.1984. What Development In Moral Development, In Kurtinez & Gerwitz. Morality, Moral Behavior dan Moral Development. Kanada: John Wiley & Sons.Inc

Multahada. E. 2005. Kekerasan Psikologis, Harga DiriDan Penalaran Moral Remaja Dari Keluarga Dengan Ayah Poligami. Tesis. (tidak diterbitkan).Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.

Sarwono, S. 1999. Psikologi Sosial. Jakarta:Balai Pustaka.

Schcuster, C. S.1980. Biophyscal Development of Adolescent. In Schuster dan Asbhurn. The Procces of Human Development :Holistic Approach. Boston:Little,Brown & Company

White,A. F. 2000. Relantship of Familiy Socialization Proceses to Adolescent Moral Thought. The Journal of social Psychology. 140 (1),75-91

2 Responses to “Peran Keluarga Dalam Perkembangan Moral Remaja”

  1. dian said

    klo boleh minta sm bapak,, boleh minta soft copy penelitian ini,,
    gmn cara mndapatknny pak? trimksih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: